Showing posts with label c o l l i n s s t r e e t. Show all posts
Showing posts with label c o l l i n s s t r e e t. Show all posts

Saturday, July 17, 2010

Pastel hangat di bulan Juli..


Hari ini Kamis, 1 Juli 2010.

Hmm…pagi ini para pejalan kaki di sepanjang Collins dan Williams St banyak yang wangi.

Ini wangi parfum-parfum bagus :)

Sebulan terakhir ini,
Parfum-parfum di berbagai gerai perbelanjaan Melbourne didiskon besar-besaran.

Parah!

Lebih murah dari harga parfum di B18, Bazaar Pacific Place Daaan Pasar Tebet sebelum terbakar! He.

Saya pun bisa membeli dua botol parfum favorit saya,
Setelah setahun terakhir menggunakan parfum beraroma ‘emak-emak mau kondangan’. He.

Tak terasa, sudah hampir 2 tahun saya menginjakkan kaki di kota ini, Melbourne :).
Hampir semua orang yang pernah ke Melbourne begitu menyukai kota ini.
Tak terkecuali sepupu-sepupu saya.

***
Kemarin,
Saya bertemu dengan sepupu saya, teman, dan anak-anaknya.

Di Indonesia (dan mungkin di negara-negara lain), bulan Juli adalah waktunya liburan sekolah.
Banyak orangtua ‘tertentu’ pun mengajak anak-anaknya liburan ke luar negeri

Malamnya, kami makan di sebuah restoran
Anak-anak sepupu saya makannya banyak. Banyak sekali. He.

Setelah menghabiskan menu utama dan berbagai cemilan ‘gorengan’
Mereka masih minta dibelikan cake. He.

Ibunya pun protes: “gak boleh ah, adek udah gendut gitu…”
Mereka pun terus memohon.

Ibunya pun luluh:
“yaudah, dibeliin, tapi gak boleh dihabiskan sendiri yah, makannya harus rame-rame, bagi aunty ima!” <- (dalam hati saya berkata: asiiiiiiik he)

Tak berapa lama,
Sepupu saya pun membawa kedua anaknya melihat-lihat cake.
Mereka pun kembali ke meja dengan membawa dua potong cake dengan banyak sendok. He.
Sendok untuk mereka, teman mereka, ibunya, teman ibunya, dan saya.

Dua kue dengan banyak sendok. <- untuk mencegah obesitas pada anak-anak He.

Cheese cake dan chocolate cake.
Yumm..

Homemade…
Yumm…

Sepertinya sendok saya lebih aktif bergerak dari dua sendok keponakan saya yang harus diet..hehe.
Enak sekali, apalagi sendok kami saling beradu! He..

***

Malam itu , suhu Melbourne cukup dingin
7 Derajat.
Selesai makan, saudara saya langsung pulang ke apartemen mereka .
Sementara saya kembali ke rumah

Ketika turun dari tram,
Saya melihat wajah sepasang suami-istri yang familiar.

Itu kali pertama saya melihat mereka di kawasan Brunswick.

Biasanya saya Cuma meilhat mereka setiap kamis pagi di Collins St.
Ketika saya bekerja membagikan majalah.

Mereka salah satu pasangan favorit saya. He.
Saya ingin menyapa tapi takut mereka tidak mengenali saya.
Lagian saya kan cuma pembagi majalah gratisan.

Seharusnya di sini, saya tidak perlu mengkhawatirkan perbedaan kelas.
Tapi saya terlalu lama besar di masyarakat pemuja kelas,
Dimana kelas sosial ‘selalu’ menentukan ‘siapa yang perlu disapa’ dalam kehidupan bermasyarakat.

Hingga pasangan itu spontan menyapa: “hey, you live here?”

Saya pun tersenyum dan mengobrol sebentar.
Senang rasanya disapa oleh pasangan favorit saya :)

Saya pun meneruskan berjalan menuju rumah saya.

Ketika melintasi Davies St, saya terkejut melihat seseorang: “Duh, nenek itu lagi!”

Berjalan tertatih-tatih di tengah dingin.
Saya pun takut.
Bukan karena mendadak melihat nenek-nenek di tengah gelap.
Tapi karena nenek itu selalu ditemani seekor anjing di sisinya. <- He, saya takut anjing,kucing, semua mamalia,he

Itu ketiga kalinya saya melihat nenek itu.
Tubuhnya ringkih,
Sedikit bungkuk dan miring.
Miris rasanya, selalu melihat sang nenek berdiri di tengah dinginnya malam.
Tapi mungkin dinginnya udara tidaklah semenusuk dinginnya suasana rumah.

Setidaknya, itulah yang saya pahami.
Karena latar belakang suasana rumah keluarga saya yang terlalu hangat.
Hangat hingga seringkali “PANAS”. He.

Sejak kecil, saya, kakak, dan adik saya terbiasa dengan pertengkaran orang tua.
Mereka sering kali bertengkar.
Hingga ketika mereka tak bertengkar, kami pun heran dan bertanya-tanya. He

Mungkin pernikahan memang tidak hanya diwarnai dengan segala sesuatu yang manis tapi juga pahit.
Itulah yang saya tahu dari berbagai kejadian yang ‘seharusnya’ (tidak perlu saya lihat).

Ketika orang tua saya bertengkar,
Kakak laki-laki saya akan mengambil sepeda dan bola basketnya untuk pergi meninggalkan rumah.
Adik saya yang kecil akan mengurung dirinya di kamar.
Berusaha menyembunyikan kupingnya di balik bantal ataupun selimut.

Adik saya suka sekali menonton acara konsultasi dengan para psikolog di televisi.

Adik saya bilang: “kak ima, jangan suka lihat abah mama berantem, kata psikolog, anak-anak gak boleh dengar pertengkaran orang tua!”

Tapi, saya selalu memilih menyaksikan orangtua saya bertengkar,

Toh, jika saya berusaha bersembunyi,
Saya pun masih akan mendengarnya.
Rumah kami tidak cukup luas untuk tidak mendengar pertengkaran.

Saya pun memilih mengintip dan menyaksikan pertengkaran kedua orang tua saya.

Mereka selalu bertengkar karena ‘hal kecil’,
Seringkali saya marah dengan ulah ibu saya dan kasian pada bapak saya.

Karena Ketika mereka bertengkar, saya selalu melihat bapak saya mengungkapkan alasan-alasan yang logis dan benar <- menurut ‘akal’ saya

Setelah pertengkaran berakhir,
Saya akan melihat bapak saya pergi meninggalkan rumah,
Sementara ibu saya akan menangis.
Menangis seperti anak kecil.
Seperti adik saya dibalik selimutnya.

Ingin rasanya saya mengejar bapak saya yang saya anggap ‘tidak bersalah’ hampir pada setiap pertengkaran.

Tapi keinginan itu seringkali tertahan, karena saya tahu setiap kali mereka bertengkar,
Ibu saya akan menangis setelahnya.
Lalu menatap saya dan berkata: “Ima, Jangan tinggalin mama ya”.

Mungkin itu sebabnya saya tidak pernah merasa pantas untuk memimpin,
Karena dalam beberapa kesempatan,
Seringkali hati saya lebih menentukan dari apa yang pikiran saya ‘benarkan’.

Meski akal saya selalu membela bapak saya, seringkali saya memilih untuk diam di rumah.
Menemani ibu saya menangis


Setiap kali menemani ibu saya menangis,
Saya tidak paham (dan tidak bisa memahami) apa yang sedang ibu saya pikirkan,
Saya tidak paham apa yang ia rasakan.
Yang saya pahami, ketika Ibu saya menangis, saya pun ingin menangis (dalam hati).

***

Malam itu,
Musim Dingin,
Gelap,

Hati saya pun menangis.
Melihat sang nenek.
Bengong.
Seorang diri.
Entah dimana keluarganya.

Saya lantas meneruskan berjalan menuju rumah.
Terlalu larut dan dingin
Saya ingin tidur lebih awal agar tidak terlambat bekerja membagikan majalah ke-esokan harinya.

***

Kamis pagi,
Saya bangun kesiangan,
Saya berlari terburu-buru menuju tram stop.
Untung pas dengan tram melintas.

Sesampainya di Collins St,
Saya langsung bergerak membagikan majalah.
Tapi pikiran saya tidak bisa berhenti membayangkan cheese cake semalam.
Ya, saya lapar. He.

Cheese cake.
Lembut.
Adonan Keju.
Diatas adonan biscuit.
Lalu dilapisi strawberry dan larutan gula.
Yummm…

Sepanjang bekerja, saya tidak bisa berhenti memikirkan cheese cake
Hingga saya membayangkan untuk berbelanja bahan-bahan cheesecake di supermarket < -he, saya benar-benar lapar .

Saya berniat, suatu hari nanti, saya harus membuat cheesecake.

Berbelanja bahan-bahannya di supermarket.
Dan menikmatinya bersama dengan housemates saya.
Sepiring cheesecake dengan banyak sendok.

Seperti pengalaman semalam,
Begitu berkesan, karena ada banyak sendok di situ. he

Entah kenapa,
Saya pun teringat sang nenek di Davies St.

Oh, saya pun ingin mengajak dia.
Agar semakin banyak sendok yang bisa digunakan untuk menikmati cheese cake
Semakin enak jika semakin berebut potongan kue:P

Oh, cheesecake, cheesecake.
Aduh, saya benar-benar lapar!

Sial, saya tidak membawa tas pagi ini
Saya juga tidak membawa dompet,
Tadi pagi saya terlalu terburu-buru,
Untunglah tiket tram masih tertinggal di saku jaket saya.

Saya tidak sabar ingin cepat pulang.
Saya akan makan makanan apapun yang ada di rumah.
Nasi campur bawang goreng pun jadi
Lapar luar biasa. He.

Hey, itu ada mba Indri, hendak melintas.
Saya pun tersenyum; “Yes, saya bisa pinjam uang!’ he.

Mba Indri, housemate saya sewaktu tinggal di King St.

Setiap hari, sekitar jam 8.30 pagi, mba indri berangkat kerja,

Setiap kamis pagi pun, Ia akan berpapasan dengan saya yang membagikan majalah di perempatan Collins dan Williams st.

Mba Indri jarang mengambil majalah saya.
Tapi Ia rajin menyapa.
Ramah :)

Pagi itu, seperti biasa, mba indri mengucap salam.
Saya pun membalas salam mba indri.

Tak biasanya, mba Indri membawa sebungkus plastik putih.
Ia lantas menyodorkan plastik itu kepada saya: “ini aku bawain pastel, masih anget buat kamu, maaf yah Cuma bisa bawain pastel!”

Mendengar kata “pastel hangat” dari bibir mba indri, saya langsung tersenyum <-kalau perut saya bisa tersenyum, mungkin ia akan tersenyum lebih lebar, he

Seketika saya pun lupa akan niat saya semula untuk meminjam uang


Karena…
Terlanjur suka dengan pastel hangat
dari
seseorang yang selalu bersikap hangat :)
Yumm ….

Makasiii mba In baiiiiiiiiiiiiiiiiiik :)


Thursday, December 17, 2009

B u k a n c i n t a part II




Minggu kedua November 2009.
Hari-hari saya belum banyak berubah :(

Kamis pagi,
Saatnya membagikan majalah.
Di perjalanan, saya bertemu Brama di Tram 19.
Brama adalah mahasiswa Indonesia di RMIT University.
Usianya belum genap 20 tahun.

Saya tidak terlalu kenal Brama.
Tapi saya tahu reputasinya sebagai seorang pemuda yang berdedikasi tinggi.
Setiap minggu pagi Ia mengajar anak-anak mengaji di Masjid westall.
Tidak pernah absen maupun terlambat.
Padahal Ia menetap di Coburg.
Dari Ujung ke ujung!

Pagi itu,
Ia menyapa saya dengan ramah.
Brama: “ei, Ima apakabar? Udah lama gak ketemu..”

Ima: “ yah..lagi stress Bram… thesis gue gak ada kemajuan…udah berapa kali kumpulin proposal disuruh ulang terus.. ..

gue sedih deh Bram…dulu gue nyari beasiswa penasaran kayak apa sih rasanya kuliah di luar negeri…
eh pas kuliah di sini gw baru tau..ternyata paling enak tinggal dekat sama keluarga…tau gini gw gak usah nyari beasiswa ke luar..malah bikin thesis bikin hidup stress!..sorry ya Bram, gue jadi curhat gini he...”

Brama mengangguk dalam senyum:
“Iya kayaknya gue liat kakak gue juga stress banget bikin thesis. Tapi semangat, jangan nyerah Ima. Belum tentu apa yang elo pikir baik itu menurut Allah adalah yang terbaik buat lo!”
Saya termenung sejenak :
“Iya yah Bram, bener juga lo…wah beruntung pagi ini gue ketemu lo…dapet nasehat bagus =)

Ketika tram melintasi Victoria Market, perbincangan kami berakhir.
Setiap jam 7 pagi, Brama bekerja membuka salah satu kios di pasar
Sementara saya membagikan majalah.

Kurang beruntung,
Pagi itu hujan.

Saya suka berjalan atau berlari di tengah hujan.
Tapi, saya tidak suka ketika saya harus bekerja di kala hujan.
Semuanya menjadi susah.
Saya harus mencari tempat berlindung.
Sementara semua pengguna jalan mempercepat langkah mereka.
Mereka menolak menerima majalah saya :(

Menit demi menit.
Tumpukan majalah saya tidak kunjung berkurang :(.
Saya pun letih berdiri di tengah lalu lalang pejalan kaki yang tidak mempedulikan saya :(
Saya melangkah ke gedung terdekat,
Berteduh sebentar.
Karena kala itu saya tidak membawa payung.

Dari bawah atap gedung, saya melihat semua pejalan kaki sibuk dengan dirinya masing-masing.
Rupanya, banyak dari mereka yang tidak membawa payung.
Tak heran, mereka semua terburu-buru.
Hingga, saya melihat seorang pria hendak menyeberang.

Saya tahu pria itu.
Tampan :p

Saya pun berhenti berteduh dan kembali melangkah ke tempat saya biasa membagikan majalah.
Saya ingin mencoba memberikan majalah pada dia :p
Ketika lampu pejalan kaki berwarna hijau,
Ia pun melangkah mendekat :)

Tapi, tidak seperti biasanya,
Kali ini Ia melangkah bersama seorang perempuan di sisinya: “pacarnya kah?”
Ah, mungkin saja Cuma teman! :P
Saya pun menyiapkan dua majalah untuk Dia dan temannya :)

Belum sempat saya memberikan majalah,
Mereka menghentikan langkahnya.
Si perempuan tampak kurang sehat.
Si pria lantas membelai rambut sang perempuan, berkata-kata, lantas mencium keningnya.
Daaaaaar!
Rupanya benar mereka sepasang kekasih.

Entah kenapa, saya pun membatalkan niat untuk memberikan majalah pada mereka.
Mendadak enggan begitu saja.

Tak berapa lama mereka berpisah,
Si wanita berjalan menuju King St,
Sementara sang pria melangkah menuju Queen St,
Saya terdiam.

Hingga seseorang membuyarkan lamunan saya: “Hi…can I have one please?”
Saya lantas memberikan satu dari dua majalah di genggaman tangan kanan saya.
Seorang perempuan muda menerima majalah saya sambil tersenyum :)
Saya pun membalas senyuman perempuan di depan saya.

Cantik dan Modis.
Ia mengenakan sebuah gaun selutut berwarna hitam dengan ornament putih di leher dan lengan.
Eh, saya kenal gaun ini.

Tahun lalu,
Saya melihat gaun ini di sebuah etalase toko.
Saya suka sejak pertama melihatnya.
Saya pun masuk ke dalam toko.
Wah, harganya mahal.
Saya lantas berniat menunggu hingga musim diskon tiba.

26 Desember 2008,
Semua orang sibuk berbelanja
Boxing Day: Melbourne penuh dengan pesta diskon.
Saya pun kembali ke toko tempat saya melihat gaun dulu.
Tapi saya pulang dengan kecewa.
Gaun itu sudah tidak ada :(
Seseorang telah membelinya.

Tak disangka,
Pagi itu,
Saya kembali melihat gaun itu.
Tapi Ia membalut tubuh orang lain.

Gaun ini tetap sama seperti pertama saya melihatnya.
Bagus.

Tapi entah kenapa Ia tidak lagi semenarik yang dulu.
Mungkin, karena saya sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk memilikinya.

I k h L a s :)

Wednesday, November 18, 2009

b u k a n c i n t a


November 2009
Saya harus bergelut dengan banyak tugas dan thesis.
Saya tidak suka thesis.
Membuat saya tertekan juga takut :(
Tapi saya selalu suka hari Kamis.
Kamis pagi adalah saat saya harus bekerja membagi-bagikan majalah di tengah kota.
Saya suka :)
Seburuk apapun mood saya, saya bisa mendadak bahagia ketika saya melakukan pekerjaan ini.
Saya senang,
Bisa memberikan majalah sembari menyapa para pengguna jalan: "Halo, Selamat Pagi!" :)
Setiap Kamis pagi,
Saya selalu melihat wajah-wajah stress.
Wajah-wajah suntuk.
Wajah-wajah mengantuk.
Senang rasanya bisa menyapa wajah-wajah itu dengan senyuman.
Setiap Kamis, saya bertugas membagikan majalah di perempatan Collins dan Williams St.
Ini lokasi perkantoran.
Di tempat ini,
Ada dua orang yang menarik perhatian saya.
Keduanya tidak pernah menerima majalah yang saya berikan.
Tapi mereka selalu membalas sapaan dan senyuman saya :)
Mereka semua berpenampilan menarik.
Rapi.
Postur tubuhnya pun bagus
Dari keduanya.
Ada satu yang berkulit hitam legam.berkepala plontos.
Ia selalu mengenakan kemeja putih dan celana abu-abu.
Postur tubuhnya bagus.(Teman saya, Runi, tahu apa yang paling menarik dari dirinya :p~)
Saya selalu menanti kedatangannya setiap Kamis pagi.
Hingga suatu ketika,
Saya bekerja tidak secepat biasanya,
Saya selesai agak akhir.
Ketika hendak pulang
Saya melihat seseorang mengenakan jaket hitam.
Sepertinya baru kali itu Ia melintas.
Atau mungkin saja sering, Tapi saya tidak pernah menyadarinya.
Postur tubuhnya tidak terlalu bagus.
Ia pun tidak pernah tersenyum.
Entah mengapa,
Ia menarik.
Sejak itu, saya selalu menunggu kehadirannya.
***
Pagi itu,
Hari Kamis,
Seperti biasa, saya siap meninggalkan rumah jam 6 pagi.
Senang rasanya melangkah keluar dan melihat matahari sudah bersinar.
Musim dingin telah selesai :)
Saya pun tidak perlu lagi berjalan dalam dingin dan gelap.
November.
Saya suka November.
Ah tapi hujan!
Terpaksa saya harus kembali mengambil payung di rumah.
Saya tidak pernah suka memakai payung.
Tapi tentu kali ini, saya perlu payung untuk melindungi majalah yang akan saya bagikan.
Saya pun melangkah kembali ke rumah.
Saya menelpon teman saya :
Sorry, bangunin pagi-pagi…minta tolong bukain pintu..mau ambil payung, di luar gerimis”
Teman saya tentu kesal direpotkan saat Ia masih terlelap.
Tok, Tok, Tok!
Dengan wajah kesal, teman saya membukakan pintu
Ia segera memberikan payung.
Tiba-tiba saja saya mendengar bunyi aneh.
Seperti bunyi obor yang menyala: “Heii…denger ga? Itu bunyi apa ya?”
Terlalu mengantuk, teman saya tidak menghiraukan.
Saya pun segera melangkah ke luar.
Di luar,
Saya melihat Balon Udara melintas di depan rumah.
Berwana merah.
Besar.
Ditumpangi 6 orang.
Balon itu melintas begitu rendah.
Begitu dekat.
Saya terkesima.
Sepertinya, baru kali ini
saya melihat balon udara.
Saya kontan berteriak: “aaaah..ada balooooon udaraaaa…baguuuuusss!”
Mendengar saya berteriak, teman saya pun keluar:
“waah..kok tumben ada balon udara,..cuaca nya hujan gini lagi..wah baru mau berangkaat..rendah banget ya…dekat..”
Dan kami pun menyaksikan balon udara melintas di halaman rumah.
Senang :)
***
Saya pun tiba kembali di stop-an tram.
Saya menunggu tram datang
Sembari tersenyum :)
Tidak menyesal rasanya harus balik lagi ke rumah untuk mengambil payung.
Saya jadi bisa melihat balon udara
Bagus !
Tak berapa lama,
Tram saya pun datang.
Di tram, saya bertemu Ria dan Limmy.
Seperti saya, Ria juga membagikan majalah setiap Kamis pagi.
Ria dan Limmy tampak tidak ceria.
Mungkin karena minggu pertama November adalah saat ketika tugas dan ujian menumpuk :(
Buat saya, terasa begitu berat.
Karena saya harus bergelut dengan thesis :(
Sudah beberapa bulan terakhir, saya berusaha mengerjakan proposal
Tapi belum juga berhasil.
Saya takut :( :(
Di Tram,
Saya bercerita akan ketakutan saya.
Minggu lalu saya merasa begitu tertekan hingga saya tidak kuasa menahan tangis
Tiba-tiba saja Ria berkata: “Ya, kita semua memang lagi stress, Kamu tahu, minggu ini udah tiga teman yang datang menangis pada saya..padahal baru minggu sebelumnya saya menginap di rumah teman karena ingin menangis, Teman saya pun menangis karena merasa supervisornya tidak membantu”
“Limmy semalam nginap rumah saya, karena sahabat baiknya baru saja meninggal ketika Ia akan menikah!”
:(
***
Semua orang punya masalah.
Saya tidak sendiri rupanya.
***
Saya pun tiba di perempatan Collins dan Elizabeth St.
Saya masih harus berjalan 2 blok lagi.
Ini adalah tempat teman saya Sol bekerja
Seperti biasa Sol akan menyapa saya: “Horee…Ima gak telaat ”
Sol, teman yang baik.
Ia rajin mengirim pesan pendek setiap kamis pagi.
Terkadang bunyinya: “Banguuuun”
Terkadang bunyinya: “Bangguuuuuun…malu sama bos”
Sol bilang: sudah satu semester ini saya 'aneh'
Dulu, Sol sering menelpon, mengirim pesan pendek, memberi coklat…
Sejak Sol tahu bahwa saya cuma berteman dengan Do.
Tapi, Saya pun cuma ingin berteman dengan Sol.
***
Saya salut sama Sol.
Ia anak Jakarta,
Dari keluarga berada.
Tapi Ia mau bekerja membagikan majalah.
Pernah,
Suatu ketika saya membagikan majalah,
Saya bertemu teman saya.
Tipikal Anak Jakarta.
Saya sudah tidak lama bertemu dengannya.
Ketika tidak sengaja bertemu, saya pun menyapanya dengan antusias. Kangen!
Tapi,
Melihat saya membagikan majalah, Ia terkejut: “Imaa….ngapain lo di sini???!!”
Saya bilang: “kerja”
Ia bilang: “ngapaiiiin?”
Saya bingung dengan reaksi teman saya.
Saya kira ini pekerjaan yang wajar dan biasa.
Tapi saya lupa, ini tentu kurang ‘wajar’ bagi beberapa kalangan.
Saya pribadi suka sekali pekerjaan ini.
Saya suka mengamati keseharian orang di tengah keramaian.
Ini seperti hiburan buat saya di tengah beban thesis :(
***
Saya pun tiba di perempatan Collins dan Williams St.
Hari itu, saya niat untuk selesai lebih awal.
Karena ini minggu pertama November.
Saya harus segera ke perpustakan, menyelesaikan tugas-tugas saya.
Sebelum kembali menghadapi thesis :(
Saya berhasil.
Saya selesai membagikan majalah jauh lebih awal.
Ketika duduk di tram,
Saya menatap tempat saya membagikan majalah.
Ah, si pria berjaket hitam melintas.
Sayang, kali ini saya tidak bisa melihatnya dari dekat.
Di Tram, saya melihat seseorang membaca majalah yang baru saja selesai saya bagikan.
Ia pun turun, meninggalkannya di bangku tram begitu saja.
Saya lantas mengambilnya.
Selama ini, saya tidak pernah sempat membaca majalah yang saya bagikan itu
Kali ini,
Saya memperhatikan sampulnya.
Berwarna cerah
Saya pun membaca satu kalimat yang mencerahkan :)
Saya segera membawa majalah itu ketika saya turun dari tram.
***
Di tram stop,
Saya melihat Sol belum selesai bekerja,
Sol masih punya beberapa majalah.
Saya berlari menghampiri Sol: “Sooooollll....”
Sol tersenyum.
Saya memohon:
“Sol, jangan ketawa yaah...he...gw mau minta tolong...gw kan kalau bagi-bagi Cityweekly ga pernah merhatiin yaah isinya apa..gw bagiin aja gitu...eh hari ini gw gak sengaja merhatiin...dan gw suka banget tulisannya...ini pas banget sama hidup gw sekarang...liat deh tulisannya: “FACE YOUR FEARS!” .jadiii...potoin gw dong sama cover cityweekly! he.."
Sol: “Ah, bilang daritadi minta fotoin”
Sol langsung mengambil kamera saya,
Saya: “bentaar Soooll...sini majalahlo,,,gw bantuin bagiin..”
Saya mengambil majalah Sol, berusaha membagikan yang tersisa..
Sol lalu mengambil foto saya.
Selepasnya, saya langsung pergi meninggalkan Sol.
Sol berteriak: “Eh mau kemana buru-buru?”
Saya bilang: “Itu tram gw datang”
Sol kesal; “Ah...ga bakal keburu..”
Sol benar: Tidak kekejar. Tram saya keburu jalan.
Saya menoleh ke Sol.
Ia sudah tidak di tempatnya.
Saya pun menyeberang.
Saya menoleh ke kanan.
Ah, si lelaki berjaket hitam :)
Berjalan tepat di sisi saya
Saya kontan tersenyum.
Memang kalau jodoh tidak kemana... (he...ngarep :p)
Saya melihatnya.
Ia terus memandang ke depan.
(mungkin) tidak sadar dengan keberadaan saya.
Tapi,
Senang rasanya bisa berada dekat dengannya.
Meski Ia (tidak) pernah tahu …
C i n t a ? :p