Showing posts with label s e d i h. Show all posts
Showing posts with label s e d i h. Show all posts

Saturday, February 19, 2011

k u m u h

Kemarin saya liputan ke daerah kumuh di jakarta utara,
wilayah dengan prosentase kemiskinan terbesar di jakarta.

Hari itu, saya ditugaskan untuk mengambil cerita warga di pinggir rel kereta yang terancam digusur tanggal 1 maret nanti.

Digusur karena daerah sekitar rel harus steril untuk mendukung kinerja sarana transportasi.

Saya pun pergi ke pemukiman kumuh di belakang stasiun kota.

Ketika sampai di sana, saya merasa familiar dengan daerah itu.

Oh saya pernah berkunjung ke sini tahun 2008

Saya pun kembali menapaki jalan yang kotor (hm sebenarnya terlalu kotor)

Kembali berusaha memahami bahwa rumah ternyata 'bisa' terbangun hanya dalam satu ruangan kecil (kamar, ruang makan, dapur, ruang keluarga semua berada dalam satu ruang).

melihat kerumunan warga duduk duduk di 'teras' rumah.

Melihat anak-anak kecil berlarian di rel kereta api.

Melihat seorang ibu berusia 60tahun menjemur nasi aking di tengah rel (disaat bersamaan kereta melaju mendekati si ibu yg 'asik' menjemur nasi yg 'tidak layak' lagi untuk dikonsumsi)

Bahaya.

Tapi kebanyakan dari mereka tidak sadar bahwa menetap di kawasan pinggir rel sama saja dengan mendekati bahaya.

Kata pak Radi, warga yg berjualan buah-buahan segar : "nyaman enak tinggal di sini banyak teman, langganan saya udah banyak.

Pak radi, 70 tahun, setiap lepas subuh berbelanja aneka macam buah di pasar beos

Dibantu sang istri (yang siang itu 'tidak sadar' hampir tertabrak kereta), pasangan ini berjualan buah ke warga sekitar.

Setelah 3 jam mengitari 'perumahan' pinggir rel, pak radi bisa istirahat di rumah dan mengantongi 80ribu rupiah setiap harinya.

Dapet uang, nyaman, dan Aman <- kata pak radi.

Lebih enak daripada di kampung.
Di kampung tidak ada uang.

Menjelang siang,
Saya pun kepanasan, he.
Saya lantas menumpang 'ngadem' di rumah warga.
Kebetulan juru kamera sedang solat jumat.
Jadi saya bisa istirahat sambil bertamu.

Ketika itu pula,
Saya sadar saya tidak lagi bisa merasakan hal yg sama seperti ketika saya pertama kali berinteraksi dengan warga di daerah kumuh beberapa tahun lalu.

Kemarin, entah kenapa Saya tidak sedikitpun merasa sedih.

Saya tidak juga merasa prihatin.

Karena dulu saya sudah berkali-kali melihat dan berkenalan dengan daerah kumuh

Memang hidup mereka seperti itu, pikir saya.


Hingga saya melihat beberapa anak sekolah tersenyum dan sesekali menarik tas saya.

Saya iseng bertanya: "kelas berapa dek?"

Mereka pun menjawab sesuai tingkat mereka di sekolah.

Ada yang menjawab; kelas 4 dan kelas 5.

Saya iseng lagi bertanya: "suka gak sekolah? Mau sekolah sampai kelas berapa?"

Seseorang diantara mereka menjawab: "suka, pengen belajar buat masa depan. Pengen sekolah sampai kuliah"


Saya pun terdiam.

Melihat perempuan-perempuan di sekitar yang telah dewasa dan kini bekerja sebagai buruh cuci dan buruh gosok di apartment terdekat.

Saya lantas mengalihkan pandangan ke seorang anak lainnya;

Ia bilang: "suka sekolah, tapi katanya mau dimasukkin pesantren aja abis klo smp kan udah gak gratis kak!"

Saya pun mengangguk,
Dan akhirnya 'bisa' merasa sedikit sedih.

Tak lama kemudian,
Juru kamera saya telah selesai sholat jumat.

Kami pun melanjutkan berkeliling untuk melengkapi gambar.

Kembali merasa kepanasan, Saya ngadem lagi he.

Duduk duduk di teras ibu2 sekitar.

Saya pun asyik membaca tweets teman2 via ponsel. (<-harus saya akui adanya layanan internet tanpa batas di handphone memang membuat saya seringkali lupa untuk menghargai orang di sekitar).

Sesekali saya 'berbasa basi' dengan ibu-ibu di sebelah saya,
Tapi mata saya asyik menatap layar ponsel.

Lalu seorang ibu tiba-tiba mendekati saya; "mbak, kalau anak2 autis itu yayasannya dimana yah?"

Saya teringat sebuah tempat yang pernah saya liput tahun 2008: "wah di bekasi bu, jauh!"

Ibu itu meneruskan: "wah di bekasi ,naik apa yah kalau kesana"

Ibu itu menanyakan jalur bis dan jujur saya tidak paham jalur ke bekasi.

saya cuma paham rute lebak bulus_depok, lebak bulus_ blok m dan lebak bulus_ palmerah <-kantor terbaru saya ;p

Saya lantas bertanya: "emang siapa yang autis bu?"

Ibu: "adek saya paling kecil, ini yang tadi jongkok dekat mba, masa gak liat?"

Saya menggeleng. (Uh,sial pengaruh blackberry )

Anak yg dimaksud lantas melintas di depan saya, kakaknya pun berkata:
"Yang ini mba, gabisa ngapa2in anaknya udah 13 taun, cuma saya aja yg ngurusin, pengen saya taruh yayasan"

Saya pun mendengar selentingan ibu-ibu lain;
"yah masa ditaruh yayasan gak kangen apa"

Atau:

"Berharap ketabrak kereta gak ketabrak tabrak"


Duh!

Saya lalu bertanya; "orangtuanya kemana bu?"

Ibu: "yah udah meninggal, saya bukannya gamau ngurus, tapi saya kan lagi hamil bentar lagi melahirkan, saya takut gabisa ngurus dia, makanya minta tolong kalau mba tau tempat untuk anak2 autis yg gak mampu"

Saya menatap wajah si anak yang khas; "memang ibu tau darimana anak ini autis?"

Ibu: "yah waktu itu saya lihat di televisi, katanya kalau anak mukanya kayak gini itu namanya autis, dimana yah mba tempat buat anak2 autis?"

Sejujurnya saya tidak yakin anak itu autis.
Saya pun meraih ponsel saya: "bentar bu, saya liat2 dulu di internet, siapa tau ada alamatnya"

Tak lama kemudian saya menemukan alamat "Rumah Autis", rupanya sudah punya cabang di jakarta utara. <-Senang :)

Di sebuah artikel tertulis bahwa rumah autis tidak hanya menerima anak2 autis, tp juga mereka yg mengalami down syndrome.

Saya lalu meminjam pulpen dan buku si ibu lalu mengembalikannya.

Si ibu pun membaca alamat di buku itu, lalu berkata;

"Wah murah, ongkosnya cuma tiga ribu"


Saat itu, saya pun tersenyum, bukan merasa sedih.

Mungkin disitu ada sesuatu yg salah,

beberapa kali melihat kemiskinan dari luar dan dalam, secara perlahan mulai mengikis kepedulian yg pernah ada.

Kekecewaan terhadap negara dan 'budaya' yg terlalu mengakar' membuat saya berpikir bahwa para doktor dan profesor sebaiknya meninggalkan negara ini.

Toh kepintaran mereka seringkali harus berbenturan dengan 'negara'

Selalu saja mereka tidak dihargai oleh negara.

Tapi rupanya,

di sini juga, siapapun sepertinya dengan mudah bisa merasa lebih berguna.


:)

***


Ps: kalau ada yg mau bantu ibunya;
Hp:02197330931
Alamat: Jl kampung muka rt 09 rw 04 kel ancol kec pademangan jak ut. Patokan stasiun kota/ masjid attaubah/ hotel alexis

Wednesday, January 05, 2011

ibu... (aku menyesal)

Kemarin lusa,
saya bertengkar dengan ibu saya.
Lebih tepatnya dimarahi.

Dimarahi dengan kata-kata yang menurut saya jahat.
Membuat saya menangis.

Malam itu juga saya pergi meninggalkan rumah,
menjemput adik saya.

Ketika bertemu dengan adik,
saya mengajaknya makan masakan Jepang <- saya memang selalu ingin masakan Jepang setiap kali merasa sedih,entah kenapa.

Tak lama kemudian,
saya bercerita pada adik tentang 'pertengkaran' saya dan Ibu.
Adik saya lalu menenangkan saya: "kasian kakak, mama 'jahat' yah"

Saya berkata:

"iya, jahat, tapi kakak juga kasian. Kakak bisa ngerti kenapa Mama ngomong begitu, kan emang kakak belum bekerja, belum menikah juga. tapi tetep aja kata-katanya itu bikin kakak nangis, kakak pokoknya gamau pulang  kalau Mama belum tidur!"

Adik saya lalu berkata:

"iya, Mama itu gak nyadar kalau marah-marahnya dia itu benar-benar nyakitin orang, dia abis marah-marah bisa aja terus ngomong: "dek, ayo makan!",
udah gitu kita selalu diam, kita selalu ngikutin maunya Mama. jadi dia gatau kalau itu salah".

Adik saya, lantas menjelaskan teori-teori psikologi dan berkata:
"kasian kakak, kakak ga pernah punya ibu secara psikologis, kakak cuma punya ibu biologis"

Jujur, baru kali itu, saya mendengar pandangan bahwa saya cuma punya ibu secara biologis.

Saya memang sering melihat bagaimana ibu-ibu lain memperlakukan anak-anaknya dengan cara yang berbeda dengan bagaimana ibu saya memperlakukan saya.
Tapi saya tidak pernah berandai-andai untuk merasakan perlakuan yang 'keibuan' seperti itu.
Saya pikir, setiap ibu itu memang berbeda.

Malamnya, kami pun pulang.
Ibu saya sudah tidur.
Entah kenapa, saya masih merasa sedih.
Hati saya masih terluka dengan perkataan ibu saya beberapa jam sebelumnya.

Saya lantas menulis di blog,
membandingkan ibu saya dengan ibu-ibu lain.
Ibu yang bukan hanya ibu biologis.
seperti yang saya miliki.

***

Esoknya, saya haid.
Tidak seperti biasanya, kali ini perut saya sakit sekali.
Jika biasanya saya sering mual,
kali ini saya mual, perut saya sakit, kepala saya sakit,
sampai saya tidak bisa konsentrasi mendengarkan ibu saya
ketika Ia marah karena saya lupa memasak nasi.

Saya cuma bisa berkata: "ma, ima ga dengar mama ngomong apa, ima sakit lagi haid"
Ibu saya berkata: "ke dokter im, periksa!"
Saya menjawab: "udah Ma, gak ada apa-apa, emang hormonal, tapi kali ini emang sakit banget!"

Saya lantas berbaring di sofa,
Muntah dua kali.

Ketika mual saya pun hilang, saya belum juga merasa sehat.

Saya pun memilih berbaring di kamar.
tapi rupanya saya masih harus ke kamar mandi.

Saya pun melangkah ke kamar mandi di kamar ibu saya.
Ibu saya sedang sholat.
Saya 'sibuk' di kamar mandinya.

Sakit perut.
membersihkan yang harus saya bersihkan.
Muntah dengan begitu mudah dan tidak bersuara.
Kembali sakit perut.

Lalu saya berbaring lemas di tempat tidur Ibu saya.

Dalam hati saya berkata: "ya Allah, saya tidak terbayang bagaimana sakitnya ketika ibu melahirkan saya, hari ini saya benar-benar merasa letih hanya dengan sakit yang saya rasakan baru beberapa jam. Saya tidak peduli lagi istilah ibu secara biologis ataupun psikologis. Menjadi ibu secara biologis pun sudah membutuhkan banyak pengorbanan!"

Selepas solat, ibu saya berkata: "udah enakan belum Im? barusan Mama doain biar hilang sakitnya.."

Sambil berbaring, saya berkata: "udah Ma, makasih"

Ibu saya lantas beranjak dari sajadahnya, dan melihat saya terbaring di tempat tidurnya:
"Ya Allah, ima pucat banget! kasian anak Mama"

Ia lantas mengoleskan minyak ke perut saya sambil berdoa.

Sambil menatapnya, saya meneteskan air mata.
Teringat tulisan saya di blog ketika hati saya merasa sedih hanya karena amarah sementara ibu saya.
Saya menyesal.

Seharusnya saya bersyukur,

Bibir ini tidak pernah berani mengeluarkan kata-kata jahat,
karena sejak kecil saya paham sedihnya mendengar kata-kata yang jahat.
Dan seharusnya tangan ini pun tidak berani menuliskan kata-kata
yang terangkai dari pemikiran yang jahat,

Oh, ibu...aku menyesal  :'(

Sunday, August 22, 2010

takut

Kemarin,
Ballieu Library.
Tutup Jam 5.
:(
Lupa kalau sabtu tutup lebih awal.


Kemarin juga,
Seorang teman di wisuda.
Diajak Makan-makan.
Niat awal hanya ikut sebentar,
Tapi 'keasyikan' hingga tengah malam.


Lupa sholat maghrib.
Lupa sholat Isya.
Lupa tarawih.
Lupa...
Lupa...

Lupa?


Sebenarnya ingat,
Tapi,
terkadang,
masih saja
bingung,
antara
menjaga perasaan teman
dengan menunaikan kewajiban


Ya Allah,


Takut untuk (kembali) lupa :(




Friday, January 15, 2010

j a t u h

14 Januari 2010,
Saatnya saya kembali bekerja di CBD,
Membagikan majalah :)

Pagi itu, saya telat meninggalkan rumah.
Saya bangun pagi,
Tapi saya membersihkan rumah hingga lupa waktu.

Saya tidak suka melihat yang kotor ataupun berantakan.
Housemate saya bilang : “elo clean freak!
Mungkin memang benar begitu adanya , he :p

Di perjalanan ,
Saya melihat beberapa motor berjejer di parkiran!


Ah bagus,
Saya selalu suka motor,
Buat saya naik motor lebih menyenangkan dari mobil :)

Lebih menyenangkan karena lebih hidup!
Motor tidak pernah memisahkan pengendara dan penumpangnya dari kehidupan di sekitarnya.
Sementara mobil dengan kaca-kacanya 'menutup' penumpang dari kehidupan sekitar.

Di Jakarta, mobil selalu sejuk dan nyaman.
Sementara udara di luar begitu panas, diikuti para pengemis yang memohon di balik kaca mobil.
Mobil dengan kesejukan.
Kenyamanan yang terpisah dari lingkungan sekitarnya

***

Di Melbourne, saya semakin senang melihat motor.
Motor disini bagus-bagus.
Penuh warna :)

Saya terpana sejenak.
Mengamati motor dan skuter.
Suka :)

Ah, lampu buat pejalan kaki telah berwarna hijau.
Saya harus segera menyeberang.
Para pejalan kaki pun mengenakan kacamata hitamnya.




Musim panas telah tiba.
Ah, saya belum punya kacamata hitam.
Tapi saya selalu punya topi :)

Saya pun sampai di perempatan,
Mengenakan rompi saya,
Dan mulai membagikan majalah.

Di sisi perempatan,
Saya melihat perbaikan jalan.
Sebuah papan bertuliskan “Pedestrians, watch your step” pun terpampang di sana.
Tanda peringatan agar para pengguna jalan tidak tersandung dan terjatuh.

Jatuh!
Beberapa kali saya terjatuh dalam hidup,
Jatuh, bangun, jatuh dan bangun lagi, dan jatuh lagi..he


Pagi itu,
Beberapa kali majalah saya pun terjatuh dari genggaman saya,
Mungkin karena saya kurang erat menggenggamnya.
Mungkin karena angin pagi itu lumayan besar.

Hingga majalah saya pun terbang dan terjatuh.
Terjatuh hingga 4 kali! :(

Pertama kali terjatuh,
Saya sedang mengamati seorang perempuan yang melintas.

Ia menerima majalah saya.
Saya bisa melihat tata riasnya dari dekat.
Aduh, Ia menyapu eye shadow berwarna merah mengkilat di kelopak matanya yang gelap.
Glittery di Pagi hari!
Aduh!

Bibir perempuan ini pun tersenyum dengan percaya diri.
Merah mengkilat.
Senada dengan kemeja satin merahnya.
Serta Sepatu hak tingginya.

Semuanya merah mengkilat.
Sepertinya saya butuh kacamata hitam kali ini :P

Dan angin pun berhembus.
Majalah saya terjatuh.
Seorang pria tua mengenakan jas abu-abu menunduk dan mengambilkan majalah saya.
Ia lantas melangkah mendekat.

Saya tersenyum: “Terima kasih banyak, ambil saja buat kamu yah”

Dia bilang: “loh, tadi kamu udah kasih saya satu? Kamu lupa ya?"

Saya termenung: “hmm..mungkin saja saya lupa”

Saya pun melanjutkan bekerja.
Sembari memperhatikan mereka yang melintas.

Saya suka pekerjaan ini.
Saya bisa mengamati cara berbusana para pejalan kaki.

Di Collins st, mayoritas pejalan kaki punya selera yang bagus dalam berpakaian.
Mungkin karena ini lokasi perkantoran.
Atau mungkin karena ini lokasi ‘mewah’.
Entahlah.

Tapi, di sepanjang Collins St,
Banyak toko-toko desainer ternama dunia,
Harganya ribuan dollar.

Tentu saja saya tidak mampu membelinya.
Tapi saya cukup senang berdiri membagikan majalah di Collins St setiap Kamis pagi,
Saya senang bisa melihat busana yang terpadu dengan perpaduan warna yang apik
Suka :)

Dan majalah saya pun terjatuh lagi,
Kali ini seorang wanita muda dalam balutan gaun abu-abu menunduk dan mengambil majalah saya,
Saya pernah melihat gaun ini di gerai PILGRIM atau CUE.
Entahlah, tapi gaun ini tampak bagus pada dirinya.

Ia pun tersenyum lalu pergi membawa majalah saya.
Yes! Majalah saya berkurang satu :)
Terima kasih :)

Tak berapa lama,
Seorang nenek melintas.
Entah Ia seorang nenek atau perempuan bule yang tampak lebih tua :p
Tapi Ia selalu tampak sehat , aktif, dan 'cuek'.

Setiap kamis pagi Ia melintas dan menolak pemberian majalah saya. He.

Pagi itu, saya melihatnya dalam balutan celana hitam dan kemeja bunga-bunga.
Kemeja bermotif bunga besar membuat tubuhnya tampak semakin besar :(

Tapi ada yang berbeda dari dirinya pagi itu.
Oh, Ia mengganti warna rambutnya, dari pirang menjadi hitam.
Rambut hitam membuat wajahnya lebih cerah :)
Saya suka :)

Dan majalah saya pun terjatuh lagi..

Tak disangka, Ia pun menunduk.
Saya menyiapkan tangan saya,
Saya tahu Ia tidak pernah menerima majalah saya. He.

Saya pun ikut menunduk ke dekatnya.
Ah, saya kenal aroma parfumnya, ini wangi nenek saya :)
Rupanya Ia mengenakan parfum yang sama dengan nenek saya.
Suka :)

Ia pun mengembalikan majalah saya.
Saya tersenyum: Terimakasih…… (nenek)…hehehe *gak lah saya gak bilang nenek…he*

Hingga waktu menunjukkan pukul 8.25,
Saya masih punya segelintir majalah,
Sebentar lagi saya selesai !

Saya tidak sabar ingin menyeberang ke Subway untuk membeli ‘seafood sensation’
Saya belum sempat sarapan.

Brak!
Sekali lagi, majalah saya jatuh.
Kali ini bukan satu.
Tapi dua sekaligus.

Seorang pria muda lantas membungkuk dan mengambil majalah saya.
Ia mengambil satu dan mengembalikan satu: “ini satu lagi saya kembalikan, buat yang lain”

Saya tidak sabar ingin menyelesaikan pekerjaan: “kalau mau ambil dua juga boleh kok”

Ia pun membalas dengan senyum: “Satu saja cukup…hmm…where do you get your hat?”

Saya terdiam…. *yah ini kan topinya si Korri..beli dimana yah tu anak..he*

Saya lantas menggeleng: “saya tidak tahu, ini topi teman saya…tapi bagus ya..”

Ia lantas tersenyum dan melangkah pergi.

Saya pun pergi membawa satu majalah terakhir.
Buat saya saja.
Saya mau pulang, saya lapar.He

Ketika hendak pergi saya kembali menatap papan bertuliskan : “Pedestrians, watch your step”

Papan peringatan agar pengguna jalan tidak terjatuh.

Jam 8.30 saya pun siap meninggalkan perempatan,
Senang rasanya bisa selesai lebih awal dari jam kerja yang seharusnya.

Semua itu tidak lepas dari bantuan mereka yang baik.
Mereka yang membungkuk ketika majalah saya terjatuh.
Sepertihalnya teman yang bersedia menolong setiap kali saya terjatuh.


Terima kasih :)


“pedestrians, watch your step!”

“people, watch your attitude!"

Sunday, November 01, 2009

Sepi...

Sudirman

Lantai Dua

Tahun 2007,

Saya dievaluasi pimpinan

Bos saya berkata:

“Hal yang harus dipertahankan dari kamu adalah positive thinking, pengamatan saya dan yang lain: kamu tu dikirim liputan kemana aja survive, balik-balik pasti bawa cerita lucu padahal di sana kita tahu ribetnya gimana...dipertahankan yah itu, inget Ima kata saya: pokoknya dimanapun kamu nanti bekerja/berada, dipertahankan itu, kamu tidak akan takut kemana-mana!”


Entah bos saya masih ingat atau tidak akan wejangan itu,

tapi kalimat tersebut begitu membekas di benak saya.


Tahun 2008,

Saya tidak takut ke luar negeri sendiri.


Padahal dulu saya sangat manja di Jakarta.

Sedikit-dikit saya menghubungi abah saya

Sedikit-dikit saya minta tolong kakak saya

Sedikit-dikit saya mencari teman saya.

Sedikit-dikit saya mencari perlindungan.


Hingga pengalaman singkat menjadi reporter ternyata melatih diri saya untuk lebih berani bergerak sendiri.

Meski saya masih banyak bergantung.


Tapi, para produser tidak pernah letih melatih saya.

Berkali-kali saya ditaruh di program liputan panjang

lebih meletihkan dari program liputan pendek harian.

Lebih stress.

***

Stress!

Oktober 2009, saya terlampau stress.

Hingga saya lupa bagaimana menjadi bahagia.


Stress seperti tanpa akhir sejak saya mengajukan proposal untuk mengerjakan thesis.


Seorang sahabat saya di UI pernah menghibur: “Santai Ima, kayak dulu aja jaman kita kuliah...lo males baca tapi kan lo suka acak milih isu untuk dikomentari, emang udah gabisa kayak gitu lagi?”


Mungkin masih bisa seperti itu

Kalau cuma mencari 'aman”

Tapi tentu saya tidak ingin sekedar aman.


Saya terlanjur berkata: “iya”

Saat Bapak pemberi beasiswa menasehati : “Nanti kamu belajar sungguh-sungguh ya di sana”


Saya pun selalu sedih ketika melihat bukti pembayaran negara buat sekolah saya.

Di sini, Pak konjen pernah berkata: “Kalian belajar sungguh-sungguh ya, dulu untuk ngebiayain saya sekolah, negara pakai duit hutang!”


Saya tidak tahu darimana asal uang sekolah saya.

Yang saya tahu itu nilai yang besar.

Jika dibandingkan dengan penghasilan saya dulu,

Lima puluh tahun saya bekerja, saya baru bisa menghasilkan uang sebesar itu.


Tapi tenyata bukan cuma nilai uang yang besar,

Di sini saya pun menemukan ketakutan terbesar saya.

Saya ternyata sangat takut sepi :'(

…..


Kemarin, saya di rumah sendiri.

Housemate saya pergi ke pantai

Housemate lain sedang ke luar.


Saya di rumah.

Berusaha belajar.

Tugas kuliah saya banyak.

Belum lagi tuntutan thesis.


Sejam-dua jam, saya masih bisa belajar

dengan ditemani tayangan televisi.

Dan alunan musik.

Hingga saya merasa bosan.


Saya melongok ke jendela.

Tidak ada manusia.

Saya melangkah ke halaman depan.

Tidak ada manusia.


Saya pun duduk-duduk di depan.

Sambil berusaha membaca.

Tapi ternyata saya bosan luar biasa.

Berjam-jam saya duduk di luar.

Tidak seorang manusia pun melintas.


Saya stress.

Dulu Pimpinan saya pernah bilang: Ima punya manajemen stress yang bagus.

Tapi kemarin saya tidak mengerti kenapa seseorang pernah menilai saya demikian.


Kemarin,

Saya begitu tertekan ketika tidak mendengar suara.

Bahkan kicauan burung pun tidak ada siang itu.

Saya masuk kembali ke dalam rumah karena matahari semakin terik.


Saya bosan.

Saya ingin menelpon teman.

Tapi saya tahu mereka semua sedang stress dengan tugas dan ujian.

Saya ingin menelpon rumah di Jakarta

Tapi kartu telpon saya sedang habis.

Tanpa saya sadari,

saya mulai menangis.

Satu persatu tissue mulai membasuh muka saya.


Saya tidak menyangka, ternyata saya bisa begitu tertekan oleh sepi.

Ingin rasanya menghubungi Ibu saya

Tapi saya tahu Ia akan menangis.

Saya pun membatalkan niat saya.


Saya memilih merasakan sepi.

Perasaan yang paling tidak disukai oleh Ibu saya.


Beruntung, sempat saya rasakan

saya tidak suka!

tidak ingin lagi merasakannya

Jika bisa,

Tidak seorang pun akan saya biarkan merasa sepi.


***


Sewaktu saya kuliah

Saya hampir tidak pernah di rumah

Setiap hari saya ke kampus

Berangkat pagi

Pulang Malam.


Jika saya pulang lebih awal,

Ibu saya begitu bahagia dan berkata : "Halo...sayang, duh kangen deh sama anak Mama!"


Saya tidak pernah mengerti mengapa Ibu saya begitu; “ah Mama lebay ah..kayak ga pernah ketemu aja”


Meski sering pulang larut,

Saya selalu melihat makanan tertata rapi di meja makan.

Seringkali tidak saya sentuh.

Karena seharian saya makan di luar.


Kalau saya pulang diantar teman-teman, biasanya saya ajak mereka makan malam di rumah.


Esoknya Ibu saya akan bahagia sekali.

Melihat makanan di meja makan sudah tersentuh.

Ibu saya bilang : “senang Mama, kalau makanan nya abis dimakan”


Kini,

Setelah saya bisa memasak, saya baru paham bagaimana senangnya.

Kalau masakan kita tidak cuma dinikmati sendiri.

Karena menikmati bersama bisa menghapus rasa sepi.



Saya dulu tidak pernah tahu berapa lama Ibu saya biasa menanti saya pulang setiap hari.

Menanti makanan di meja makan tersentuh.

Hingga Ia seringkali terlelap dan harus melihat makanan yang sama masih utuh di meja hingga keesokan harinya:(



Kemarin,

Saya baru mengerti mengapa Ibu saya selalu menyambut gembira kedatangan saya.


Karena saya selalu membuatnya merasa sepi.

Setiap saya terburu-buru ke kampus di pagi hari,

Padahal ibu saya bangun lebih pagi untuk membuatkan saya susu dan roti.

Tapi saya lewatkan begitu saja karena saya takut terlambat kuliah


Saya terus membuatnya merasa sepi.

Hingga malam hari.

Hingga keesokan harinya lagi.


Maaf yah ma :(


***

Tak Heran,

Ketika saya kerja,

setiap kali dapat shift siang.

Ibu saya selalu berada di meja makan saat saya hendak berangkat kerja.

Ia akan memanggil dan berkata: “Im, temenin mama makan dulu dong”

Seringkali saya sempatkan karena : “pikir-pikir boleh juga buat berhemat :P”


Semoga saat ini, ada yang selalu menemani ibu saya makan siang .

Karena saya telah mengerti bagaimana sedihnya merasa sepi :(


Tapi mungkin bukan hanya saya, ibu saya, yang tidak suka sepi.


***

Di kos-an saya,

Setiap hari selasa ada seorang ibu yang datang membersihkan rumah.


Setiap kali saya hendak berangkat kuliah.

Ia akan bercerita panjang sekali.

Saya tidak tahu siapa yang diceritakan.

Saya tidak terlalu mengerti apa yang diceritakan

Tapi entah mengapa saya tidak pernah bisa menolak untuk tidak mendengarkannya bercerita.


Ia sangat suka bercerita.

Saat saya masih di kamar pun.

Ia akan mengetuk kamar saya dan bercerita.


Setiap hari selasa, teman sekelas saya pun bilang: “lo parah bgt sih kalau hari selasa telatnya”


Saya selalu tahu alasannya.

Terkadang saya merasa bodoh, kenapa saya tidak pernah belajar dari pengalaman.

Untuk meninggalkan rumah lebih awal setiap hari selasa

Hingga saya tidak perlu terlambat untuk sebuah cerita yang tidak terlalu saya mengerti.


Tapi sejak kemarin,

saya bersyukur,

saya selalu terlambat kuliah setiap hari selasa


Meski selalu 'terjebak” mendengarkan cerita panjang sang ibu.

Saya berharap kepasrahan saya bisa membuatnya bahagia

Semoga bisa sedikit mengurangi sepi.

Karena sepi ternyata begitu menyiksa.


Saya tahu Ia pasti pernah merasa sepi.

Ia selalu ingin bercerita.

Tak hanya bercerita

Tapi juga didengarkan.



Selasa lalu,

Saya sudah siap berangkat kuliah

Perkiraan saya tidak akan telat.

Saya sengaja tidak menyapa sang Ibu, saya cuma pamit pada housemate saya,


Mendengar suara saya,

Ibu itu mengejar saya.

Ia kembali bercerita.

Padahal saya sudah berdiri di pintu depan.


Saya pun mendengarkan.

Sekali lagi saya terlambat.


Tapi, sekarang saya yakin saya melakukan hal yang tepat

Saya mendengarkan seseorang yang ingin bercerita dan didengarkan

Sementara lebih dari 20 mahasiswa mungkin sudah mendengarkan dosen saya di kelas.

Ia tidak akan merasa sepi.


***


Kemarin,

Saya lupa membuang tumpukan tissue bekas tangisan saya

Menjelang malam, housemate saya pulang.


Saya ketahuan habis menangis cuma karena sepi.

Ia bilang: saya ada kelainan.


Mungkin saja benar.

Mungkin saja mereka yang tertekan oleh sepi punya kelainan.


Ibu kos saya pernah bilang: “pada akhirnya semua manusia akan sendiri..cuma antara manusia dan Tuhan”


Sepi


Kemarin,

Saya benar-benar tertekan.

Saat saya tidak melihat manusia

Saya bahkan mencari-cari kucing jantan yang biasanya saya takuti

Saya tertekan karena

tidak kunjung mendengar suara

tidak pula bisa sembahyang karena saya sedang berhalangan


Saya tidak tahu mau mengadu ke siapa.


Tapi sungguh saya merasa lebih nyaman dengan percaya akan adanya Tuhan



semoga mereka yang menyangkal-NYA bukanlah sebuah 'kelainan'



Dengan kelainan saya, saya berjanji:

Tidak sedetik pun, saya berani membiarkan setiap orang yang saya sayang untuk merasa sepi!