Wednesday, November 18, 2009

b u k a n c i n t a


November 2009
Saya harus bergelut dengan banyak tugas dan thesis.
Saya tidak suka thesis.
Membuat saya tertekan juga takut :(
Tapi saya selalu suka hari Kamis.
Kamis pagi adalah saat saya harus bekerja membagi-bagikan majalah di tengah kota.
Saya suka :)
Seburuk apapun mood saya, saya bisa mendadak bahagia ketika saya melakukan pekerjaan ini.
Saya senang,
Bisa memberikan majalah sembari menyapa para pengguna jalan: "Halo, Selamat Pagi!" :)
Setiap Kamis pagi,
Saya selalu melihat wajah-wajah stress.
Wajah-wajah suntuk.
Wajah-wajah mengantuk.
Senang rasanya bisa menyapa wajah-wajah itu dengan senyuman.
Setiap Kamis, saya bertugas membagikan majalah di perempatan Collins dan Williams St.
Ini lokasi perkantoran.
Di tempat ini,
Ada dua orang yang menarik perhatian saya.
Keduanya tidak pernah menerima majalah yang saya berikan.
Tapi mereka selalu membalas sapaan dan senyuman saya :)
Mereka semua berpenampilan menarik.
Rapi.
Postur tubuhnya pun bagus
Dari keduanya.
Ada satu yang berkulit hitam legam.berkepala plontos.
Ia selalu mengenakan kemeja putih dan celana abu-abu.
Postur tubuhnya bagus.(Teman saya, Runi, tahu apa yang paling menarik dari dirinya :p~)
Saya selalu menanti kedatangannya setiap Kamis pagi.
Hingga suatu ketika,
Saya bekerja tidak secepat biasanya,
Saya selesai agak akhir.
Ketika hendak pulang
Saya melihat seseorang mengenakan jaket hitam.
Sepertinya baru kali itu Ia melintas.
Atau mungkin saja sering, Tapi saya tidak pernah menyadarinya.
Postur tubuhnya tidak terlalu bagus.
Ia pun tidak pernah tersenyum.
Entah mengapa,
Ia menarik.
Sejak itu, saya selalu menunggu kehadirannya.
***
Pagi itu,
Hari Kamis,
Seperti biasa, saya siap meninggalkan rumah jam 6 pagi.
Senang rasanya melangkah keluar dan melihat matahari sudah bersinar.
Musim dingin telah selesai :)
Saya pun tidak perlu lagi berjalan dalam dingin dan gelap.
November.
Saya suka November.
Ah tapi hujan!
Terpaksa saya harus kembali mengambil payung di rumah.
Saya tidak pernah suka memakai payung.
Tapi tentu kali ini, saya perlu payung untuk melindungi majalah yang akan saya bagikan.
Saya pun melangkah kembali ke rumah.
Saya menelpon teman saya :
Sorry, bangunin pagi-pagi…minta tolong bukain pintu..mau ambil payung, di luar gerimis”
Teman saya tentu kesal direpotkan saat Ia masih terlelap.
Tok, Tok, Tok!
Dengan wajah kesal, teman saya membukakan pintu
Ia segera memberikan payung.
Tiba-tiba saja saya mendengar bunyi aneh.
Seperti bunyi obor yang menyala: “Heii…denger ga? Itu bunyi apa ya?”
Terlalu mengantuk, teman saya tidak menghiraukan.
Saya pun segera melangkah ke luar.
Di luar,
Saya melihat Balon Udara melintas di depan rumah.
Berwana merah.
Besar.
Ditumpangi 6 orang.
Balon itu melintas begitu rendah.
Begitu dekat.
Saya terkesima.
Sepertinya, baru kali ini
saya melihat balon udara.
Saya kontan berteriak: “aaaah..ada balooooon udaraaaa…baguuuuusss!”
Mendengar saya berteriak, teman saya pun keluar:
“waah..kok tumben ada balon udara,..cuaca nya hujan gini lagi..wah baru mau berangkaat..rendah banget ya…dekat..”
Dan kami pun menyaksikan balon udara melintas di halaman rumah.
Senang :)
***
Saya pun tiba kembali di stop-an tram.
Saya menunggu tram datang
Sembari tersenyum :)
Tidak menyesal rasanya harus balik lagi ke rumah untuk mengambil payung.
Saya jadi bisa melihat balon udara
Bagus !
Tak berapa lama,
Tram saya pun datang.
Di tram, saya bertemu Ria dan Limmy.
Seperti saya, Ria juga membagikan majalah setiap Kamis pagi.
Ria dan Limmy tampak tidak ceria.
Mungkin karena minggu pertama November adalah saat ketika tugas dan ujian menumpuk :(
Buat saya, terasa begitu berat.
Karena saya harus bergelut dengan thesis :(
Sudah beberapa bulan terakhir, saya berusaha mengerjakan proposal
Tapi belum juga berhasil.
Saya takut :( :(
Di Tram,
Saya bercerita akan ketakutan saya.
Minggu lalu saya merasa begitu tertekan hingga saya tidak kuasa menahan tangis
Tiba-tiba saja Ria berkata: “Ya, kita semua memang lagi stress, Kamu tahu, minggu ini udah tiga teman yang datang menangis pada saya..padahal baru minggu sebelumnya saya menginap di rumah teman karena ingin menangis, Teman saya pun menangis karena merasa supervisornya tidak membantu”
“Limmy semalam nginap rumah saya, karena sahabat baiknya baru saja meninggal ketika Ia akan menikah!”
:(
***
Semua orang punya masalah.
Saya tidak sendiri rupanya.
***
Saya pun tiba di perempatan Collins dan Elizabeth St.
Saya masih harus berjalan 2 blok lagi.
Ini adalah tempat teman saya Sol bekerja
Seperti biasa Sol akan menyapa saya: “Horee…Ima gak telaat ”
Sol, teman yang baik.
Ia rajin mengirim pesan pendek setiap kamis pagi.
Terkadang bunyinya: “Banguuuun”
Terkadang bunyinya: “Bangguuuuuun…malu sama bos”
Sol bilang: sudah satu semester ini saya 'aneh'
Dulu, Sol sering menelpon, mengirim pesan pendek, memberi coklat…
Sejak Sol tahu bahwa saya cuma berteman dengan Do.
Tapi, Saya pun cuma ingin berteman dengan Sol.
***
Saya salut sama Sol.
Ia anak Jakarta,
Dari keluarga berada.
Tapi Ia mau bekerja membagikan majalah.
Pernah,
Suatu ketika saya membagikan majalah,
Saya bertemu teman saya.
Tipikal Anak Jakarta.
Saya sudah tidak lama bertemu dengannya.
Ketika tidak sengaja bertemu, saya pun menyapanya dengan antusias. Kangen!
Tapi,
Melihat saya membagikan majalah, Ia terkejut: “Imaa….ngapain lo di sini???!!”
Saya bilang: “kerja”
Ia bilang: “ngapaiiiin?”
Saya bingung dengan reaksi teman saya.
Saya kira ini pekerjaan yang wajar dan biasa.
Tapi saya lupa, ini tentu kurang ‘wajar’ bagi beberapa kalangan.
Saya pribadi suka sekali pekerjaan ini.
Saya suka mengamati keseharian orang di tengah keramaian.
Ini seperti hiburan buat saya di tengah beban thesis :(
***
Saya pun tiba di perempatan Collins dan Williams St.
Hari itu, saya niat untuk selesai lebih awal.
Karena ini minggu pertama November.
Saya harus segera ke perpustakan, menyelesaikan tugas-tugas saya.
Sebelum kembali menghadapi thesis :(
Saya berhasil.
Saya selesai membagikan majalah jauh lebih awal.
Ketika duduk di tram,
Saya menatap tempat saya membagikan majalah.
Ah, si pria berjaket hitam melintas.
Sayang, kali ini saya tidak bisa melihatnya dari dekat.
Di Tram, saya melihat seseorang membaca majalah yang baru saja selesai saya bagikan.
Ia pun turun, meninggalkannya di bangku tram begitu saja.
Saya lantas mengambilnya.
Selama ini, saya tidak pernah sempat membaca majalah yang saya bagikan itu
Kali ini,
Saya memperhatikan sampulnya.
Berwarna cerah
Saya pun membaca satu kalimat yang mencerahkan :)
Saya segera membawa majalah itu ketika saya turun dari tram.
***
Di tram stop,
Saya melihat Sol belum selesai bekerja,
Sol masih punya beberapa majalah.
Saya berlari menghampiri Sol: “Sooooollll....”
Sol tersenyum.
Saya memohon:
“Sol, jangan ketawa yaah...he...gw mau minta tolong...gw kan kalau bagi-bagi Cityweekly ga pernah merhatiin yaah isinya apa..gw bagiin aja gitu...eh hari ini gw gak sengaja merhatiin...dan gw suka banget tulisannya...ini pas banget sama hidup gw sekarang...liat deh tulisannya: “FACE YOUR FEARS!” .jadiii...potoin gw dong sama cover cityweekly! he.."
Sol: “Ah, bilang daritadi minta fotoin”
Sol langsung mengambil kamera saya,
Saya: “bentaar Soooll...sini majalahlo,,,gw bantuin bagiin..”
Saya mengambil majalah Sol, berusaha membagikan yang tersisa..
Sol lalu mengambil foto saya.
Selepasnya, saya langsung pergi meninggalkan Sol.
Sol berteriak: “Eh mau kemana buru-buru?”
Saya bilang: “Itu tram gw datang”
Sol kesal; “Ah...ga bakal keburu..”
Sol benar: Tidak kekejar. Tram saya keburu jalan.
Saya menoleh ke Sol.
Ia sudah tidak di tempatnya.
Saya pun menyeberang.
Saya menoleh ke kanan.
Ah, si lelaki berjaket hitam :)
Berjalan tepat di sisi saya
Saya kontan tersenyum.
Memang kalau jodoh tidak kemana... (he...ngarep :p)
Saya melihatnya.
Ia terus memandang ke depan.
(mungkin) tidak sadar dengan keberadaan saya.
Tapi,
Senang rasanya bisa berada dekat dengannya.
Meski Ia (tidak) pernah tahu …
C i n t a ? :p

Sunday, November 01, 2009

Sepi...

Sudirman

Lantai Dua

Tahun 2007,

Saya dievaluasi pimpinan

Bos saya berkata:

“Hal yang harus dipertahankan dari kamu adalah positive thinking, pengamatan saya dan yang lain: kamu tu dikirim liputan kemana aja survive, balik-balik pasti bawa cerita lucu padahal di sana kita tahu ribetnya gimana...dipertahankan yah itu, inget Ima kata saya: pokoknya dimanapun kamu nanti bekerja/berada, dipertahankan itu, kamu tidak akan takut kemana-mana!”


Entah bos saya masih ingat atau tidak akan wejangan itu,

tapi kalimat tersebut begitu membekas di benak saya.


Tahun 2008,

Saya tidak takut ke luar negeri sendiri.


Padahal dulu saya sangat manja di Jakarta.

Sedikit-dikit saya menghubungi abah saya

Sedikit-dikit saya minta tolong kakak saya

Sedikit-dikit saya mencari teman saya.

Sedikit-dikit saya mencari perlindungan.


Hingga pengalaman singkat menjadi reporter ternyata melatih diri saya untuk lebih berani bergerak sendiri.

Meski saya masih banyak bergantung.


Tapi, para produser tidak pernah letih melatih saya.

Berkali-kali saya ditaruh di program liputan panjang

lebih meletihkan dari program liputan pendek harian.

Lebih stress.

***

Stress!

Oktober 2009, saya terlampau stress.

Hingga saya lupa bagaimana menjadi bahagia.


Stress seperti tanpa akhir sejak saya mengajukan proposal untuk mengerjakan thesis.


Seorang sahabat saya di UI pernah menghibur: “Santai Ima, kayak dulu aja jaman kita kuliah...lo males baca tapi kan lo suka acak milih isu untuk dikomentari, emang udah gabisa kayak gitu lagi?”


Mungkin masih bisa seperti itu

Kalau cuma mencari 'aman”

Tapi tentu saya tidak ingin sekedar aman.


Saya terlanjur berkata: “iya”

Saat Bapak pemberi beasiswa menasehati : “Nanti kamu belajar sungguh-sungguh ya di sana”


Saya pun selalu sedih ketika melihat bukti pembayaran negara buat sekolah saya.

Di sini, Pak konjen pernah berkata: “Kalian belajar sungguh-sungguh ya, dulu untuk ngebiayain saya sekolah, negara pakai duit hutang!”


Saya tidak tahu darimana asal uang sekolah saya.

Yang saya tahu itu nilai yang besar.

Jika dibandingkan dengan penghasilan saya dulu,

Lima puluh tahun saya bekerja, saya baru bisa menghasilkan uang sebesar itu.


Tapi tenyata bukan cuma nilai uang yang besar,

Di sini saya pun menemukan ketakutan terbesar saya.

Saya ternyata sangat takut sepi :'(

…..


Kemarin, saya di rumah sendiri.

Housemate saya pergi ke pantai

Housemate lain sedang ke luar.


Saya di rumah.

Berusaha belajar.

Tugas kuliah saya banyak.

Belum lagi tuntutan thesis.


Sejam-dua jam, saya masih bisa belajar

dengan ditemani tayangan televisi.

Dan alunan musik.

Hingga saya merasa bosan.


Saya melongok ke jendela.

Tidak ada manusia.

Saya melangkah ke halaman depan.

Tidak ada manusia.


Saya pun duduk-duduk di depan.

Sambil berusaha membaca.

Tapi ternyata saya bosan luar biasa.

Berjam-jam saya duduk di luar.

Tidak seorang manusia pun melintas.


Saya stress.

Dulu Pimpinan saya pernah bilang: Ima punya manajemen stress yang bagus.

Tapi kemarin saya tidak mengerti kenapa seseorang pernah menilai saya demikian.


Kemarin,

Saya begitu tertekan ketika tidak mendengar suara.

Bahkan kicauan burung pun tidak ada siang itu.

Saya masuk kembali ke dalam rumah karena matahari semakin terik.


Saya bosan.

Saya ingin menelpon teman.

Tapi saya tahu mereka semua sedang stress dengan tugas dan ujian.

Saya ingin menelpon rumah di Jakarta

Tapi kartu telpon saya sedang habis.

Tanpa saya sadari,

saya mulai menangis.

Satu persatu tissue mulai membasuh muka saya.


Saya tidak menyangka, ternyata saya bisa begitu tertekan oleh sepi.

Ingin rasanya menghubungi Ibu saya

Tapi saya tahu Ia akan menangis.

Saya pun membatalkan niat saya.


Saya memilih merasakan sepi.

Perasaan yang paling tidak disukai oleh Ibu saya.


Beruntung, sempat saya rasakan

saya tidak suka!

tidak ingin lagi merasakannya

Jika bisa,

Tidak seorang pun akan saya biarkan merasa sepi.


***


Sewaktu saya kuliah

Saya hampir tidak pernah di rumah

Setiap hari saya ke kampus

Berangkat pagi

Pulang Malam.


Jika saya pulang lebih awal,

Ibu saya begitu bahagia dan berkata : "Halo...sayang, duh kangen deh sama anak Mama!"


Saya tidak pernah mengerti mengapa Ibu saya begitu; “ah Mama lebay ah..kayak ga pernah ketemu aja”


Meski sering pulang larut,

Saya selalu melihat makanan tertata rapi di meja makan.

Seringkali tidak saya sentuh.

Karena seharian saya makan di luar.


Kalau saya pulang diantar teman-teman, biasanya saya ajak mereka makan malam di rumah.


Esoknya Ibu saya akan bahagia sekali.

Melihat makanan di meja makan sudah tersentuh.

Ibu saya bilang : “senang Mama, kalau makanan nya abis dimakan”


Kini,

Setelah saya bisa memasak, saya baru paham bagaimana senangnya.

Kalau masakan kita tidak cuma dinikmati sendiri.

Karena menikmati bersama bisa menghapus rasa sepi.



Saya dulu tidak pernah tahu berapa lama Ibu saya biasa menanti saya pulang setiap hari.

Menanti makanan di meja makan tersentuh.

Hingga Ia seringkali terlelap dan harus melihat makanan yang sama masih utuh di meja hingga keesokan harinya:(



Kemarin,

Saya baru mengerti mengapa Ibu saya selalu menyambut gembira kedatangan saya.


Karena saya selalu membuatnya merasa sepi.

Setiap saya terburu-buru ke kampus di pagi hari,

Padahal ibu saya bangun lebih pagi untuk membuatkan saya susu dan roti.

Tapi saya lewatkan begitu saja karena saya takut terlambat kuliah


Saya terus membuatnya merasa sepi.

Hingga malam hari.

Hingga keesokan harinya lagi.


Maaf yah ma :(


***

Tak Heran,

Ketika saya kerja,

setiap kali dapat shift siang.

Ibu saya selalu berada di meja makan saat saya hendak berangkat kerja.

Ia akan memanggil dan berkata: “Im, temenin mama makan dulu dong”

Seringkali saya sempatkan karena : “pikir-pikir boleh juga buat berhemat :P”


Semoga saat ini, ada yang selalu menemani ibu saya makan siang .

Karena saya telah mengerti bagaimana sedihnya merasa sepi :(


Tapi mungkin bukan hanya saya, ibu saya, yang tidak suka sepi.


***

Di kos-an saya,

Setiap hari selasa ada seorang ibu yang datang membersihkan rumah.


Setiap kali saya hendak berangkat kuliah.

Ia akan bercerita panjang sekali.

Saya tidak tahu siapa yang diceritakan.

Saya tidak terlalu mengerti apa yang diceritakan

Tapi entah mengapa saya tidak pernah bisa menolak untuk tidak mendengarkannya bercerita.


Ia sangat suka bercerita.

Saat saya masih di kamar pun.

Ia akan mengetuk kamar saya dan bercerita.


Setiap hari selasa, teman sekelas saya pun bilang: “lo parah bgt sih kalau hari selasa telatnya”


Saya selalu tahu alasannya.

Terkadang saya merasa bodoh, kenapa saya tidak pernah belajar dari pengalaman.

Untuk meninggalkan rumah lebih awal setiap hari selasa

Hingga saya tidak perlu terlambat untuk sebuah cerita yang tidak terlalu saya mengerti.


Tapi sejak kemarin,

saya bersyukur,

saya selalu terlambat kuliah setiap hari selasa


Meski selalu 'terjebak” mendengarkan cerita panjang sang ibu.

Saya berharap kepasrahan saya bisa membuatnya bahagia

Semoga bisa sedikit mengurangi sepi.

Karena sepi ternyata begitu menyiksa.


Saya tahu Ia pasti pernah merasa sepi.

Ia selalu ingin bercerita.

Tak hanya bercerita

Tapi juga didengarkan.



Selasa lalu,

Saya sudah siap berangkat kuliah

Perkiraan saya tidak akan telat.

Saya sengaja tidak menyapa sang Ibu, saya cuma pamit pada housemate saya,


Mendengar suara saya,

Ibu itu mengejar saya.

Ia kembali bercerita.

Padahal saya sudah berdiri di pintu depan.


Saya pun mendengarkan.

Sekali lagi saya terlambat.


Tapi, sekarang saya yakin saya melakukan hal yang tepat

Saya mendengarkan seseorang yang ingin bercerita dan didengarkan

Sementara lebih dari 20 mahasiswa mungkin sudah mendengarkan dosen saya di kelas.

Ia tidak akan merasa sepi.


***


Kemarin,

Saya lupa membuang tumpukan tissue bekas tangisan saya

Menjelang malam, housemate saya pulang.


Saya ketahuan habis menangis cuma karena sepi.

Ia bilang: saya ada kelainan.


Mungkin saja benar.

Mungkin saja mereka yang tertekan oleh sepi punya kelainan.


Ibu kos saya pernah bilang: “pada akhirnya semua manusia akan sendiri..cuma antara manusia dan Tuhan”


Sepi


Kemarin,

Saya benar-benar tertekan.

Saat saya tidak melihat manusia

Saya bahkan mencari-cari kucing jantan yang biasanya saya takuti

Saya tertekan karena

tidak kunjung mendengar suara

tidak pula bisa sembahyang karena saya sedang berhalangan


Saya tidak tahu mau mengadu ke siapa.


Tapi sungguh saya merasa lebih nyaman dengan percaya akan adanya Tuhan



semoga mereka yang menyangkal-NYA bukanlah sebuah 'kelainan'



Dengan kelainan saya, saya berjanji:

Tidak sedetik pun, saya berani membiarkan setiap orang yang saya sayang untuk merasa sepi!

Sunday, September 06, 2009

mimpi..

Jika mimpi menyimpan refleksi atas kenyataan,
maka saya ingin bermimpi tentang rumah setiap malam.
Rumah bukan dalam arti wujud.
Tapi Rumah dalam arti Suasana.

Lalu terbangun ketika dini hari,
Karena merasakan aliran air membahasi mata dan pipi,
Saya pun membuka mata dengan kesal,

Saya akan melihat wajah ibu saya yang tersenyum jahil.

Senyum jahil dalam balutan mukena.
Ia akan berkata: "Ayo solat subuh!"

Saya pun mengeluh: "Ah rese ah mama...emang mama kesenengan aja...maen air...ngusilin ima aja, ima kan semalem tidur jam 2 ni...bentar lagi deh"

Ibu saya pun mencari dukungan: "Bah ini anaknya gak mau solat!"

Abah saya pun akan berkata: "Ima bangun Ima!"

Saya pun tidak mau kalah, ikut mencari dukungan: "Iya entar Ima solat abis si adek deh...
dek bangun dek...
adek lebih penting bah dibangunin..dia kan lebih males"

Adek pun ikut terbangun karena percikan air dari gayung Mama: "aaah mamaa aaaah....apaaaan si?"

Sementara saya mencoba untuk kembali terlelap.
Sayup-sayup, saya akan mendengar suara abah saya: "adek ayo solat adek...abah liat adek solat subuh jam 7 melulu"

Adek: "lah kata abah solat subuh kalau baru bangun tidur, gapapa?"

Abah: "uuu....yaudah sekarang bangun..."

Adek: "iya, ntar abis ka'ima...biar gantian aja mukenanya...ga banyak2! ka ima solat ka ima, bangun"

Saya: "iya..nanti abis adek wudhu...kan adek kalau udah ketiduran susah banguninnya"

Abah: "uuu...susah banget ni anak-anak dibangunin...Ali solat Lii!"

Ali: "kok jadi ali si????"

***

Dan saya pun ingin terbangun karena aliran air penanda waktu subuh
Bukan karena aliran air mata :'(

Wednesday, July 22, 2009

Klise: sekolah ternyata kebutuhan bukan sekedar kewajiban











Siang itu,

Saya nebeng teman menuju pusat perbelanjaan

Teman saya mau pulang ke rumah.

Saya ada janji di pusat perbelanjaan.

Mendekati pusat perbelanjaan.

Ia meredam laju motornya lantas berujar: “Daritadi gw ngomong kok lo diem aja sih..”

Saya: “Yah gw gak kedengeran kali di belakang…”

Teman: “Oh…gak denger, Hm… sayang ya kita ketemunya telat..
coba dari dulu kita kenal…pas gw masih sma”

Saya: “Iya sayang emang…aturan kan gw kan bisa hemat ongkos bertaun2!
udah berapa coba tabungan gw kalo dari dulu nebeng lo..”

Teman: “Taaaa*!”

Ima: “Hahaha…lo juga!”

Teman: “Haha, Taaa*…yaa, sayang aja gue kenal lo telat…kalau gak kan…”

Ima: “Apaan si…lo dah punya pasangan juga...dah ya gw cabut”

Temen: “Yeee…kenapa si lo? Gw kan cuma ngomong doang!”

Ima: “Sama! gw juga cuman ngomong doang :p”

Temen: “Haha….yaudah gw balik deh…makasi lo mau naik motor gw”

Ima: “Sip, makasi tebengannya…hati-hati”

Temen: “Eh, ima….”

Ima: “Apa?”

Temen: “Lo sekolah jangan tinggi-tinggi, lo perempuan…
jangan sekolah tinggi-tinggi..ntar pada takut”

***
Waktu kecil,

Saya malas sekali sekolah karena tidak suka bangun pagi

Abah saya pasti marah: “Bangun…sekolah!”

Saya pasti protes: “Kenapa si harus sekolah?!”

Abah saya bilang: “Sekolah penting, biar berilmu, mau jadi apa kalau gak sekolah?”

Ima: Oh sekolah biar bisa kerja, biar punya uang?

Abah: “ya mau jadi apa kalau gak sekolah? Kalau gak punya ilmu, harta itu pasti habis, kalau ilmu tidak ada habisnya… orang yg berilmu bisa mencari harta dan mengatur biar hartanya tidak habis”

Saya pun selalu berpikir : Sekolah biar kaya kelak.

Setiap dapat buku baru dari sekolah: saya menuliskan nama saya : Prof. DR. Fatimah Alatas
Hihihi

Saya berhenti menuliskan nama dengan gelar, saat saya meragukan abah saya

Ternyata apa yg saya pahami saat itu tidak sesuai dengan kenyataan.

Mereka yang tidak berilmu seringkali kaya

Mereka yang berilmu tidak selalu kaya

Saya protes: “Gimana si, kok Prof itu…udah profesor rumahnya jelek…
Si itu ga pernah kuliah rumahnya banyak…mobilnya bagus-bagus”

Saya cuma dinasehati: “Sekolah pokoknya penting! Pokoknya wajib sekolah”

***
Setiap hari saya sekolah.

Meski saya malas bangun pagi.

Pagi hari selalu diawali dengan terburu-buru.

Akibatnya saya sering salah pakai seragam

Harusnya pakai rok putih, saya pakai rok merah

Harusnya batik dipakai hari sabtu, saya pakai hari senin.

Saya ingat kalau salah pakai baju hari senin, saya berdiri di lapangan

Bersama mereka yg lupa bawa topi, bawa dasi, dan lain-lain

Beberapa kali saya hampir pingsan kalau upacara karena belum sempat sarapan


Tapi, Beruntung saya pernah sekolah

Di sekolah, Saya belajar untuk tidak mudah dibodohi.

Karena sahabat pun suatu ketika bisa memiliki niat buruk

Waktu SD, Saya selalu memilih duduk di belakang.

Akibatnya, Saya sering lengah dengan apa yang diterangkan guru

Saya ingat sekali, guru saya Pak Mardi pernah menegur: “Iya ima becanda terus di belakang, coba jabarkan singkatan dari Jabotabek?”

Tidak mengikuti pelajaran, saya pun tergagap-gapap : “ee….eee…eee…

Saya mendengar sahabat saya berbisik:
“Ima ima….Jabotabek = Jakarta botak bebek”

Saya tahu dia berbohong

Tapi saya terlalu bodoh dan tidak punya jawaban lain.

Pak Mardi terus menunggu jawaban saya: “Apa ima singkatan JABOTABEK?!! Coba jawab segera!”
Entah mengapa saya terjebak, saya pun menjawab dengan lantang: “JABOTABEK= JAKARTA BOTAK BEBEK!”

Pak Mardi tertawa.
Teman saya tersenyum puas.
Saya malu dan mengumpat.

Waktu SMP,
Dari sekian banyak pelajaran, cuma satu pelajaran yang saya suka.
Pelajaran yang tidak perlu banyak usaha
Cukup melihat dan mengerti
Saya selalu dapat nilai hampir sempurna pada pelajaran tersebut.
Tapi tidak demikian dengan pelajaran lain yang mengharuskan banyak membaca

Tapi beruntung saya pernah sekolah.
Jika setiap manusia secara alamiah memiliki kelebihannya masing-masing
Sekolah, mengajarkan untuk tidak terlalu sombong.

Terlalu yakin dengan kemampuan saya pada pelajaran itu,
Saya selalu menggunakan jam pelajaran itu untuk mengerjakan tugas yang lain.
Hingga suatu ketika, guru saya marah luar biasa,
Saya dicubit di lengan dan di hati.

Ia bilang: “Oooo begini…mentang-mentang selalu dapet angka sempurna, terus bisa se-enaknya ga merhartiin pelajaran saya, iya gitu?
Berani sekali kamu, sombong sekali! Lain kali tidak usah ikut pelajaran saya, di luar lebih baik!”

Saya terkejut, malu.
Saya pun minta maaf.
Pulangnya saya menangis.
Saya menangis karena kelebihan tertentu telah membuat saya menyakiti sang guru

Beruntung,
Sekolah mengajarkan untuk memanfaatkan kelebihan tanpa berlebihan.
Sekolah mengajarkan untuk memanfaatkan kelebihan untuk menghormati bukan untuk menyakiti!

Waktu SMA,
Saya suka sekali sekolah.
Karena sekolah menjadi ladang perdagangan yang menguntungkan :p~

Setiap hari, tas saya berat.
Tapi isinya tidak pernah buku, melainkan barang dagangan

terkadang, isinya puluhan koleksi vcd abah saya yang saya sewakan pada teman-teman
terkadang, isinya aneka ragam dagangan saya
Sebut saja parfum, kosmetik, sepatu, makanan dan lain-lain
Saya terus mengembangkan hobi, hingga bangku kuliah.

Dulu,
Kuliah di jurusan non-eksakta seringkali membuat saya merasa bodoh.
Beruntung kuliah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bodoh.

Di kampus UI,
Saya punya satu dosen favorit.
Orangnya bijak
Nilai saya tidak pernah bagus pada pelajaran sang dosen.
Tapi Ia tidak pernah membuat saya merasa bodoh.

Saya ingat suatu hari Ia pernah berkata:
“Jika seseorang tidak bagus pada suatu bidang, maka bukan berarti dia bodoh,
Karena dia pasti pintar di bidang yang lain”

Pada suatu ketika,
Ia membagikan hasil ujian.
Satu kelas mendadak tegang.
Karena itu pelajaran paling susah saat itu.
Buat banyak teman susah dari segi materi.
Buat saya sulit dari segi materi dan bahasa.

Saya ingat, saya tidak bisa mengerjakan ujian.
Karena saya tidak mengerti apa yang saya pelajari.
Semalam sebelum ujian, saya terus menghapal
Tapi saya menghapal dalam bahasa yang saya tidak tahu maknanya.

Ketika ujian,
Saya tidak mengerti arti pertanyaan.
Tidak pula mampu menjabarkan pikiran saya dalam bahasa asing.

Saat tiba giliran kertas ujian saya dibagikan,
Saya melangkah lemas.
Saya tahu pasti dapat jelek.
Saya melirik kertas ujian saya,
Nilai saya jauh dari cukup. Dibawah 20 , skala 100


Dosen saya berkata: “Aduh ima, bagaimana si kamu?”

Saya menyiapkan telinga untuk makian sang guru.

Ia meneruskan: “Kamu pasti gak belajar ya?”

Saya menjawab: Saya belajar bu….

Belum sempat saya meneruskan kalimat saya,
Ia berkata: “Mana? kamu pasti ga belajar…kamu tahu..kalau kamu belajar…kamu bisa lebih baik dari ini…saya yakin!”

Ia pun mengembalikan kertas ujian saya.
Saya menerima lembaran sembari tersenyum.
Saya suka cara dosen saya : cara orang berpendidikan.

Jika kepintaran dan pemahaman bisa diukur dengan angka
Maka angka ujian saya menunjukkan ketidakpahaman dan kebodohan.

Tapi orang berpendidikan tahu cara tepat untuk menempatkan orang bodoh tanpa harus membuat mereka merasa bodoh.

Saya kembali ke bangku saya.
Melihat kertas ujian saya.

4 halaman polio..
hanya halaman depan dan belakang yang saya isi…
Dua halaman di tengah…kosong tanpa jawaban.

Teman-teman tertawa terpingkal-pingkal: “Yah mending gw…biar dapet belasan…tapi 4 halaman di isi, hahaha”

Saya ikut menertawakan kebodohan saya.

Tapi,
Diantara kami yang tertawa…
Ada mereka yang menangis.
Mereka yang telah berusaha keras, tapi tidak juga mendapatkan nilai baik
Mereka yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik.

***

Maret 2006,
Saya menghadiri wisuda kakak saya di salah satu institut swasta.
Ini bukan institut negeri, ataupun institut favorit

Tapi, hari itu semua mahasiswa bahagia mendapat gelar insinyur.
Dan di institut inilah, saya mendengar salah satu pidato terbaik.


Pidato Pak Habibie.
Diatas podium, Ia berkata:

“Hari ini kalian lulus, bersama dengan ribuan sarjana lain di Indonesia...
perjuangan kalian belum selesai...kalian masih harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri, lulusan luar negeri…dan lain lain…

tapi Jangan takut..
hidup bukan Cuma untuk mereka yang terbaik…. hidup juga untuk mereka yang mau memanfaatkan kesempatan!”


***

Ramadhan 2007
Saya ditugaskan untuk berkunjung ke kampung para pengemis.
Di sana saya mengenal Ibu Sartinah dan keluarganya yang ramah :)

Usia Ibu Sartinah melebihi separuh baya
Setiap hari Ia mengemis di sepanjang jalan pasar minggu
Sementara sang suami yang lumpuh bertugas di stasiun Depok Lama.

Selepas subuh, Sartinah telah siap bekerja
Dengan mangkuk kecil Sartinah melintasi satu kios ke kios lainnya di pasar minggu.

Saya tanya pada Sartinah: “Bu, mengemis itu kata orang hina, dari sekian banyak pekerjaan, kenapa memilih untuk mengemis?”

Sartinah bilang: “Abis saya mau kerja apa neng? Saya gak pernah sekolah…mau kerja jadi pembantu gak bisa..gak ada orang yg mau nerima nenek-nenek kayak saya”

Sartinah benar.
Lapangan pekerjaan yang tersedia tidak bisa memberdayakan Sartinah.

Tapi Sartinah tetap bisa hidup
Pendapatan Sartinah setiap bulannya setara dengan standar gaji lulusan S-1 Universitas Indonesia.

Dengan kapasitas ‘tidak pernah sekolah’, Sartinah bisa menghidupi 4 orang anaknya dan suaminya yang lumpuh karena Sartinah bisa dan mau memanfaatkan kesempatan.

***
Sartinah pun menjadi salah satu inspirasi saya untuk memanfaatkan kesempatan.

Saya sekolah lagi,
Nilai saya biasa-biasa saja.
Dua kali, saya kecewa karena cuma mendapat nilai ‘rata-rata’ , terkena penalti sekian persen akibat tidak disiplin.

Tapi,
Beruntung sekolah mengajarkan saya untuk belajar menerima konsekuensi dari melanggar peraturan.

***
Hari minggu kemarin,
Saya menonton tayangan dokumenter berbagai peristiwa peledakan di Indonesia.
Pada tayangan tersebut, saya melihat seorang pelaku peledakan di tahun 2000, diwawancara.

Jurnalis: “Apa bapak tidak tahu bahwa perbuatan itu melanggar hukum?”

Pelaku bilang: “Saya tidak tahu, saya tidak mengerti yang gitu-gitu!”

Jurnalis: “Apa tidak ada perasaan bersalah?”

Pelaku: “Yah semua pasti bilang saya bersalah….tapi kan wallahualam, cuma Allah yang tahu”

Saya terperangah.
Orang ini tidak mengerti, tapi berani sekali melakukan aksi berbahaya

Seandainya saja mereka pernah mengalami proses untuk mengerti, mungkin keberanian akan berujung pada proses yang menguntungkan bukan membinasakan

Orang ini perlu sekolah.

***

Jika dunia penuh dengan kebodohan
Sekolah mengajarkan untuk tidak mudah dibodohi

Jika dunia dianugerahi dengan potensi,
Sekolah mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam memanfaatkan potensi.
Sekolah bahkan mengajarkan untuk memanfaatkan potensi tanpa menyakiti orang lain.

Tidak ada yang perlu ditakuti dengan menjadi berpendidikan.

Pengalaman saya selama menempuh pendidikan hingga saat ini,
Tidak pernah membawa saya menjadi yang terbaik.
Mungkin bukan atau belum kapasitas saya.


Tapi saya selalu ingat kalimat Pak Habibie
Habibie bilang:
“Hidup bukan hanya untuk mereka yang terbaik, tapi juga untuk mereka yang MAU memanfaatkan kesempatan”

Saya sepenuhnya sependapat.
Dan sekolah menciptakan kesempatan untuk mereka yang bisa dan mau menjadi lebih baik :)

Sunday, July 12, 2009

Cerita Belum Selesai :P

Tram 19
Jumat 22 May 2009

Sop: “Ima gw punya temen…minta cariin cowo…kayaknya kesepian banget anaknya..
Katanya ‘ajak-ajak gw dong..kenalin dong kalau lo punya kenalan cowo’..tapi gimana
yah..dia minta tolong ma gw…lah gw aja gaada cowo…”

Ima: “he… belom aja kali…yang mana si anaknya?”

Sop: “yah anaknya emang gak menarik si…gak ada modis-modisnya nya gitu…kalau lo
liat..”

Ima: “ah, penampilan kan ujung2nya gapenting, hm.emang, ulangtaun nya kapan?
Kasi kado baju aja...”

Sop: “yah mana gw tau kapan…orang gw ga begitu deket .mnrt lo gimana?

****

Waktu saya kecil,
Ada masanya dimana ‘celana ketat’ menjadi sebuah trend.
Celana berbahan katun, hingga menutupi dengkul.
Hampir semua teman perempuan sebaya punya celana ketat.
Ada yang warna pink, ungu, coklat, kuning dsb.
Punya saya warna hijau muda dan biru polkadot.

Saya paling suka yang warna hijau muda.
Modelnya keren!
Keren sekali..
Untuk main ‘karet’, ‘tak jongkok’, ‘petak umpet’, atau ‘tak garis’ di sore hari.
Hahaha

Semua orang bilang: ‘celananya bagus’

Meski yang hijau lebih bagus,
saya lebih sering pakai yang biru polkadot.
Terlalu sering dipakai,
Celana biru polkadot saya pun tampak usang.
Tapi saya pakai terus
Semua orang bilang: “celana butut kok masih dipakai!”
Ibu saya benci sekali dengan celana butut itu.
“malu katanya”
“jelek”

Tapi saya pakai terus,
Celana itu selalu menemani saya sejak saya bermain karet hingga saya bermain ‘roller blade’ beberapa tahun kemudian.
Berlabel ‘celana sedengkul’, celana itu terus saya pakai hingga Ia tak sanggup lagi menutupi dengkul saya.

Pada suatu hari,
Saya tidak melihatnya di lemari pakaian.
Saya cari di mesin cuci.
Tidak ada.
Saya cari di jemuran.
Juga tidak ada.
Saya terkejut,
Saat saya menemukannya di ember kotor.
Airnya keruh.
Saya angkat celana saya.
Saya bersihkan.
Saya cuci.
Lalu saya pakai lagi besoknya.

Ibu saya marah luar biasa.
“Kenapa dipakai lagi? Celana itu udah jelek!, sengaja Mama pakai buat ngepel biar Ima gak pakai celana itu terus”

Keras kepala, saya terus memakai celana itu.

Beberapa hari kemudian,
Saya kembali kehilangan celana itu.
Saya geledah semua ember.
Ember cucian.
Tidak ketemu.
Ember Pel
Juga tidak ada.
Saya benar-benar bingung,
Saya terus mencarinya

Tak berapa lama,
Saya melihatnya di sisi rak piring.
Tapi Ia tidak lagi berbentuk celana.
Sudah berupa potongan bahan.
Sudah berupa fungsi
Untuk lap tempat cucian :(

Saya sedih dekali.
Biar kata orang jelek,
Saya cinta sekali sama celana itu
Sepuluh tahun kemudian, saya masih mengingatnya,
Sebagai celana terbaik saya :)

Friday, July 03, 2009

Bule emang lebih keren! (jangan tersinggung, dicontoh lebih baik :)














Waktu jaman sekolah,
Saya punya sahabat yang cantik luar biasa.
Karena cantik, Ia sering ditawari main iklan atau film.
Sahabat saya ini sangat bangga dengan darah campuran yang Ia miliki.
Meski sudah cantik,
Ia sangat mengagumi bule.
Saya ingat, pada suatu hari Ia pernah berkata:
"Gila yaah ..bule tuh selalu keren...kita udah rapih-rapih..cantik-cantik
...tau-tau bule dateng cuma pake kaos..tetep aja dia lebih keren"

Pernyataannya teman saya itu pun diamini oleh teman-teman lain.
Semua mengagumi bule.
Semua ingin tampak seperti bule.
Dulu, saya pun lebih senang dikira bule daripada turunan arab :P
Karena bule lebih keren
Begitu katanya.

Setelah sering melihat dan berinteraksi dengan bule,
Saya merasa bahwa bule tidak sekeren itu.
Bule banyak juga yang aneh
amburadul
bau
tidak enak dilihat

Tapi ada satu hal dasar yang harus saya akui sangat sangat BAGUS dari bule!

Jika kecanggihan dokter kulit telah merubah kulit asia bisa tampak seperti kulit bule.
Bedah plastik bisa membuat yang terlahir tidak mancung menjadi mancung.
Sementara cat rambut bisa membuat warna rambut juga seperti bule.
Ada satu hal yang belum berubah.
Satu hal penting yang dimiliki Bule tapi belum dimiliki teman-teman saya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.


***

Semalam, teman saya sms.
Tangannya sakit.
Ia minta saya menggantikan pekerjaanya: membagikan majalah di corner swanston st dan bourke st.
Saya harus tiba di lokasi jam 7 pagi.
Awalnya saya malas,
karena malam itu saya masih latihan paskib di konjen.
Apalagi jam 7 pagi di musim dingin masih gelap gulita.
Tapi akhirnya, saya bersedia menggantikan dia.

Jam 11 malam,
saya pun ke rumah teman.
Ambil Rompi.
Topi.
Berwarna merah.
Bertuliskan city weekly.
Teman saya bilang: "tugaslo cuma diri aja, bagiin dua bundel majalah sampai habis. lo harus sampai jam 7 pagi, jangan telat! lo kerja sampai jam 9, inget yah jangan telat, dari rumahlo lo harus jalan jam 6!"
Saya bilang :OK

Sesampainya di rumah,
saya pun memasang alarm jam 5.
Tapi karena tidur terlalu larut, saya akhirnya bangun jam 6.46.
Panik.
Saya pun langsung ngibrit ke tram stop.
Dengan baju seadanya.

Begitu turun di Bourke St,
Saya lari dan mencari spot yang teman saya bilang.
Di pojok kanan saya tidak melihat tumpukan majalah
Di pojok kiri pun tidak ada.
Saya berkata dalam hati: "jangan-jangan karena saya telat 50 menit...majalahnya udah diambil sama dealernya...yah mati deh gw...bisa ditegor temen gw sama bosnya"

Tapi ternyata saya salah.
Tepat di depan pintu sebuah toko,
saya melihat 2 bundel tumpukan majalah.
Kira-kira ada 200an majalah.
Saya langsung mengeluarkan 'seragam' saya dari tas dan memakainya seketika.
Saya harus bergerak cepat karena waktu saya tinggal 1 jam 10 menit lagi.

Saya pun mulai membagikan majalah kepada setiap orang yang lewat.
Kali ini mayoritas bule yang lewat, sangat enak dilihat dari segi penampilan.
Cara berpakaiannnya bagus.
Perpaduan warnanya apik.
dan wangi :)

Saya pun menikmati membagikan majalah,
sambil memperhatikan cara berpakaian orang-orang.
Tak terasa,
belum 10 menit,
saya telah menghabiskan lebih dari 1/4 total tumpukan.

Semuanya bisa begitu cepat,
karena saya merasa bahagia.
saya teringat pengalaman serupa di Jakarta beberapa tahun yang lalu.
Selembar brosur bisa bertahan di tangan selama berjam-jam
karena saya tidak bahagia.

Saya kesal.
dengan tatapan bapak-bapak genit
tatapan ibu-ibu yang menganggap remeh.
ataupun kesal karena tidak digubris sedikitpun oleh mereka yang terlalu sombong untuk mengakui keberadaan saya dan brosur-brosur saya.

itu di Jakarta.

Tapi tadi pagi,
Banyak ibu-ibu bule mengenakan pakaian karya desainer dan tas senilai jutaan rupiah pun dengan ramah menyapa saya dan menerima majalah pemberian saya.
Mereka bahkan menyempatkan berhenti sebentar,
menatap saya dan berkata: terima kasih.

Sementara mereka yang menolak menerima majalah,
dengan ramah berkata: Gausah, terimakasih ya..

Saya pun masih menikmati pekerjaan saya, ketika ada kalanya pemberian saya ditolak berkali-kali oleh para pengguna jalan.
Dan,
Saya sangat terkejut
ketika seorang wanita muda tiba-tiba menghampiri dan berkata: Hi, I want one please!

Meski dari segi penghasilan dan penampilan, yang saya miliki jauh lebih rendah dari yang mereka punya, saya benar-benar merasa dihargai :)

Saya pun lupa bahwa saya harus menghabiskan tumpukan majalah dalam waktu yang sempit.


Jam 8.30
Tak terasa saya telah menghabiskan tumpukan majalah.
Saya berhasil menyelesaikan tugas dalam waktu 40 menit.
Saya pun melangkah dengan bahagia.

Semuanya berkat sikap positif yang dimiliki BULE.

Untuk yang satu ini,
saya harus mengakui bahwa BULE memang lebih KEREN!


Tuesday, May 19, 2009

Peringkat

[14 May 2009]


Peringkat apaan si artinya?

di mailist ada yang posting top universities in Asia.
Juaranya University of Hongkong.
UI memimpin dari sekian banyak universitas di Indonesia.

Dulu saya kuliah di UI,
saya pribadi si suka "penampilan UI" yang indah dan asri

kata orang UI itu bagus,
jurusan saya sastra inggris
tapi sepertinya bagi beberapa orang: UI tempat saya belajar itu gak bagus!
Gaktau apa mereka punya pengalaman buruk dengan UI
atau entah bagaimana
mereka cuma bilang:
"yah kalau masuk sastra doang si semua orang juga bisa"
"yah anak sastra mah ga pernah belajar"
"yah sastra si entar kerjanya jadi apa"
"yah sastra si belajar sambil merem juga bisa"

Saya pun belajar sambil merem.
Hasilnya beberapa kali gak lulus.
hihihi

Kata orang: "gimana si sastra doang kok ga lulus?"

Dulu, untuk masuk UI ada sistem peringkat yang di sebut passing grade.
Jurusan saya sastra inggris,
menurut peringkat masih termasuk 5 besar.
tapi peringkat seperti tanpa arti.
Mungkin memang peringkat sebenernya tidak se-berarti yang diyakini orang banyak :p

Teman saya yang anak eksakta UI, dengan bangga memamerkan buku-bukunya yang tebal.
saya si bersyukur ga punya buku tebal.
yah kalau mau punya buku tebal si bisa aja,
tapi saya males bawa2 buku ke kampus.
seperti anak sd yang mau ujian sambil membawa tas pinggang :p
saya selalu bawa tas ukuran sedang-sedang saja ke kampus.

kalau mau ujian, anak-anak di peringkat teratas UI
mengaku stress.
berusaha simpati, saya juga mengaku stress.
tapi paling saya cuma mendapat tanggapan: "ah jurusan lo mah gampang, teman2 gw sampe gak tidur!"
saya biasanya cuma menelan ludah.
lalu tertidur sambil berpikir: "kasian amat yang pada gak tidur mau ujian"
hihihihi

Sekarang saya kuliah di University of Melbourne,
Ini kampus yang dianjurkan sponsor studi saya.

Dulu saya tidak pernah dengar kampus ini.
Semula saya sangat tertarik kuliah di University of Sydney.
semata-mata karena jatuh cinta dengan penampilan kampusnya
seperti di Harry Potter :p
tapi sponsor saya mengajurkan University of Melbourne

Ternyata, di sistem peringkat dunia, untuk "arts and humanities",
University of Melbourne ada di peringkat 16
sedikit di atas Usyd, kampus idaman saya dulu

Sejak kuliah di sini,
saya belum pernah menerima komentar 'menyebalkan'
meski pelajaran saya sekarang berkaitan erat dengan pelajaran di 'sastra inggris'
gak ada yang bilang: "semua orang juga bisa masuk situ"
"mau jadi apa kalau belajar kayak gitu doang"

semua seolah-olah terdiam cuma karena peringkat!

Padahal nilai saya lebih ancur di UI,
yang berada di peringkat sekian ratus dunia.
Nilai saya malah lebih baik di Melb U,
yang konon peringkat sekian dunia.

Peringkat!
Bisa bikin orang diam.
Bisa bikin orang memandang rendah.
Bisa bikin orang berdecak kagum.

saya pribadi tidak terlalu suka peringkat.
Apalagi, kalau saya harus mendengar komentar seperti ini:

"enak aja, dia mah beda, jangan harap dia masuk Melb U"
"kalau gw udah di terima di Melb U, ngapain juga gw ngelirik kampus lain"

atau komentar senada lainnya *CENSORED hihihi*

Kalau peringkat cuma bikin orang jadi sombong,
saya berharap dunia tidak perlu peringkat.

Plagiat


[12 April 2009]


Ini bukan plagiat.
Saya gak suka plagiat.
Situ mau plagiat?
Terserah situ deh!
Haha

***

Kira-kira setahun lalu,
saya menerima sebuah "friend request' dari seorang perempuan.
Karena saya tidak kenal, tidak saya approve.
Tak lama kemudian saya di add lagi, saya reject lagi.
Begitu terus hingga berulang kali.

Akhirnya, saya membuka profil si 'calon' teman ini.
saya lihat ada beberapa teman nya yang saya kenal.
kebetulan para jurnalis.
lama-lama saya berpikir,
"jangan jangan saya memang pernah kenal sama orang ini"
akhirnya saya approve.

***

Hari ini, saya log in ke facebook
Di sisi kanan layar monitor, ada tanda sebuah note baru.
Penulisnya: sosok perempuan yang menjadi teman saya di facebook setahun lalu.
seseorang yang saya kira teman saya..
Saya pun membaca note tersebut.
Saya lalu membaca note-note yang dia tulis sebelumnya.

Saya membaca sebuah note berjudul "macan"
Saya terperangah: ini kan cerita saya yang saya beri judul "luar biasa"

saya lalu membaca cerita dia yang berjudl "Fayu"
Itu juga adaptasi dari cerita saya yang berjudul "Mali"

Saya baca "flash back aah" , persis sekali dengan tulisan "rezeki", yang saya tulis bulan Januari lalu.

***

Oh begini rasanya kalau di-plagiat,
Saya mau marah, tapi saya pikir lagi: buat apa marah?
Saya gak rugi apa-apa. hehe

Saya bukan D'Massive yang meraup untung dari mencontek lagu-lagu Swithcfoot, Muse, dan lain-lain.
Tapi toh, kalau si perempuan lantas meraup keuntungan dari tulisan tersebut, apa saya pantas marah ya?

Waktu kecil,
Saya pernah baca sebuah wawancara di Harian Republika, yang membuat saya terperangah.

Di saat semua musisi protes karyanya di bajak.
Seorang musisi muslim dari sebuah negara di Timur Tengah di wawancara;
"Pak, musik anda beredar luas di kaset2 kompilasi di Indonesia, album anda sendiri malah gak laku!"

Si Bapak menjawab: "Ya gapapa, saya kan mau dakwah lewat musik, kalau orang bajak kan malah lebih banyak yang denger lagu saya , kan tujuan utamanya saya mau dakwah"

***

Saya tidak merasa saya berdakwah melalui tulisan saya *sapa juga yang mau dengerin? haha*
Saya juga merasa tulisan saya gak nyeni.
tapi ternyata ada yang nyontek. *Sedih amat referensinya hehe*

Saya terus membaca note-note 'teman' saya ini,
Jangan-jangan memang semuanya hasil contekan.
Saya bosan.
Saya pun berhenti membaca tulisan tulisan sang 'teman'
di sebuah tulisan Ia mengeluh karena dia tidak punya teman, tidak punya sahabat.

Entah kenapa,
Saya tidak punya rasa simpati
Saya lantas menghapus dia dari daftar teman saya,
saya bahkan menambahkan dia dalam list orang-orang yang saya block.

***

Hmm,
Jika plagiat terhadap sebuah 'tulisan sehari-hari' saja bisa menghapus rasa simpati terhadap manusia,
Bayangkan, betapa buruk dampaknya jika plagiat dilakukan terhadap karya berkualitas seperti karya seni mutakhir atau karya ilmiah?


Mau jadi apa dunia?!



***


-Ternyata saya tidak bisa sebijak si bapak-













PS: Ini masih mau di-plagiat juga gak? :P

Friday, April 10, 2009

Pepatah 'Gila Anak'












[2 April 2009]

Sebulan lalu,
Di tengah perjalanan menuju Rowville.
Paman saya bercerita jika rumahnya terasa sepi,
Sejak anak lelakinya pergi ke benua lain ;mencari pengalaman baru.
Mereka menangis.

Ia lantas berkata: "Ima, coba deh kamu liat: Orangtua selalu gila anak, tapi anak gak ada yang gila orangtua"

***

Siang itu,
Ditengah perjalanan saya menuju ke Uni,
Seorang ibu melangkah memasuki Tram 19
Ia mendorong kereta bayinya.
Lalu berhenti dan duduk di sebelah saya.

Saya melirik ke arah kereta bayi.
Bocah laki-laki sedang tertidur pulas.
Sementara di sisi saya, sang bunda terus menatapnya.
sambil tersenyum.

Saya menunduk.
Berusaha membaca materi pelajaran hari ini.
Tiba-tiba si ibu bersuara: 'anak saya sedang tidur'
Saya cuma mengangguk.

"anak saya usianya baru 1 tahun, tapi dia tampak udah besar yah?"
sang ibu seperti meminta persetujuan saya.

saya kembali mengangguk.
lalu berusaha berkonsentrasi membaca.

"dia selalu tidur jam-jam segini...nanti bangun...lalu tidur lagi... hehe"
Si ibu terus berbicara tanpa saya tanya.

Saya melirik ke arahnya.
Dia sedang memperhatikan bayinya.
Sesekali Ia tersenyum.


Setelah berapa lama, saya tahu bawa mereka berasal dari Irak.
Saya pun bertanya: "Ibu sudah berapa lama di Melbourne?"
Ia bilang: 7 tahun!
Saya: "wah betah dong yah"
"Gak saya gak suka di sini, saya lebih suka di Irak", lantas ia terus bercerita mengenai kampung halamannya.
Ia lalu menutup ceritanya:
"tapi yah bagaimana, saya harus tinggal di sini, masa depan anak saya lebih bagus di sini, saya harus betah tinggal disini"

***

Siang ini, Ibu saya menelpon: "Ima kangen Mama ga?"
Saya bilang: "kangen, kangen"
Mama: "kok gak pernah telpon?"
Saya cuma tertawa: "yah mahal ma" *ngeles mode on*

"Mama sedih deh, di rumah sepi.Ima kapan si selesai sekolahnya?"

Saya menjawab singkat: "Setahun lagi"

Mama: "aduh masih lama...ima nyesel gak sekolah disana? nanti ima kalau udah lulus pulang kan? kerja di
sini kan?"

Ima: "Ya iya laah.."

***

Tak berapa lama saya menerima 3 sms baru.
Semuanya dari Abah saya.
Tapi tidak ada isi nya alias sms kosong.

Saya teringat 2 bulan lalu, ketika saya pulang ke rumah.
Bapak saya mengeluh: "Ima kenapa si kalau di sms abah sering gak bales"

Saya membantah: "yah abis Abah kalau sms, gak berupa pertanyaan..cuma ngasi info...yah ima ga bales lah..kadang2 malah sms gak ada isinya...apa yang mau dibales?" :p

Abah: "Uuuu.....sms itu harus dibales...biar kosong juga harus dibales gitu etikanya.."

Ima: "ah bisa aja.."

Adek saya menimpali: "emang tu abah, suka ga jelas kalau sms... sms buat ka' ima suka dikirim juga ke adek...sms ke ka'ali juga di forward ke adek...frustasi kali gak ada yang bales"

Abah saya protes: "abis anak-anak kalau di sms gak ada yang bales...abah sms aja semuanya...eh gak ada yang bales juga"

Saya dan Adek: Hahahaha

***

Beberapa minggu lalu,
Di tengah perjalanan menuju Flinders.
Paman saya memberi saran: "Ima kamu jangan cepet-cepet pulang, di sini aja, enak kamu jadi PR (permanent residence), di sini kan hidupnya lebih enak, gajinya bagus, kualitas hidupnya lebih baik"

Waktu itu saya cuma mendengarkan.

Paman saya bilang : "coba deh kamu pertimbangkan baik baik yah"

***

Sekarang sepertinya saya sudah punya jawaban
"Enggak ah Om, saya pengen buktiin kalau pepatah om salah :p"


"Orangtua selalu gila Anak, tapi Anak gak ada yang gila Orangtua"


Saya bosan cuma jadi bagian dari pepatah lama!

Keluarga :)










"Harta yang paling berharga adalah keluarga”
“Mutiara tiada tara adalah keluarga”

-Dikutip dari lirik soundtrack “Keluarga Cemara”

Sewaktu kecil saya suka menonton serial keluarga cemara.
Saya suka serial itu karena lucu, menghibur, dan
lagunya enak hehe
Dulu saya, dan adik sering menyanyikan soundtrack keluarga cemara
Dengan baris favorit:
“Selamat pagi Emak.. (tung tang ting tung)!, Selamat pagi Abah. (teng teng teng teng)!”

***

Sewaktu saya masih duduk di taman kanak-kanak,
Seorang teman saya bercerita mengenai pengalaman nya ke luar negeri
Ia dan keluarganya habis liburan ke Singapore.
Saya senang mendengar ceritanya.
Senang pula melihat foto-fotonya di sisi lain dari dunia.

Saya pun pulang ke rumah dengan cerita tentang teman saya.
Saya bilang ke Ibu saya: “Ma, enak deh ma, si … liburan jalan2 ke Singapore..
Enak ya ma..”

Ibu saya pernah ke Singapore.
Saya berharap Ia akan menanggapi cerita saya dengan pengalamannya.
Tapi Ibu saya cuma terdiam.

Esoknya saya main lagi ke rumah teman saya itu.
Pulang dari rumah teman,
Saya diajak bicara oleh abah saya.
Abah saya bilang: “Abah tidak sanggup kalau ima mau liburan ke Singapore!”

Saya sedih sekali.
Bukan karena Singapore.
Saya sedih karena merasa telah membebankan orangtua dengan cerita luar negeri teman saya.
Saya menyesal.

Sejak itu saya berjanji saya tidak akan bercerita mengenai luar negeri,
Tapi saya senang mencari tahu tentang ‘luar negeri’

***’

Sewaktu di sekolah dasar,
Teman saya memberi saya sebuah pena yang unik sekali.
Modelnya lucu,
Warnanya meriah.
Saya hampir tidak menyadari bahwa itu sebuah pena.
Terlalu bagus pikir saya.
Teman saya bilang: “ini belinya di Hongkong, oleh-oleh buat kamu!”
Saya bilang: “Wah terima kasih, bagus nya bolpen dari Hongkong!”
Teman saya pun terus bercerita mengenai Hongkong.
Saya menyimaknya dengan antusias.
Tapi saya pulang tidak membawa cerita.

Masih di sekolah dasar,
Seorang teman mengisi buku biodata milik saya
Atau dulu lebih dikenal dengan nama diary,
Setelah mengisi data-data tentang dirinya.
Ia tidak lupa menempelkan sebuah foto.
Sebuah foto bergambar pantai dengan seorang ibu dan anak kecil berdiri di tepian.
Di bawah foto itu bertuliskan: “ima ini aku waktu di L.A, Amerika”

Menginjak smp,
Teman-teman saya tidak kalah baik dan menyenangkan.
Mereka ada yang lahir di Jerman, New York, dan lain-lain.
Mereka pun punya sejuta cerita tentang masa kecilnya di luar negeri.
Saya senang sekali mendengarnya.
Tapi saya tidak pernah pulang dengan membawa cerita.

Sewaktu di Sma,
Seorang teman membawa foto-fotonya sewaktu di Inggris.
Esoknya teman saya yang lain membawa foto sewaktu di Paris
Beberapa hari kemudian, teman yang lain membawa foto di belahan dunia lainnya
Saya tidak ingat dimana saja.
Mereka sering bercerita,
Saya senang mendengarnya.
Hingga suatu ketika salah satu dari mereka pernah bertanya:
"Ima kok diem aja, kalau elo pernah kemana?"
Saya bilang: “yah belum pernah ke luar negeri, tapi pernah ke Bandung , Lampung hehe”

Sewaktu lulus sma,
Teman saya berpencar-pencar,
Ada yang ke Malaysia, Jerman, Inggris, Australia, Amerika, Jepang, Belanda,
Ah saya tidak hafal dimana saja.
Saya berpikir: “waah beruntung banget kuliah di luar negeri”
Saya senang melihat foto-foto teman sewaktu di luar negeri.
Saya selalu berpikir: “bagus yah luar negeri, kayaknya enak banget”
Tapi tentu saya Cuma sekedar mengagumi,
Saya tidak pernah berkhayal liburan, tahun baruan, Christmas-an, shopping ke luar negeri.
Saya bahagia di dalam negeri :)

***

Enam bulan lalu
Sewaktu menginjakkan kaki saya di Melb,
Adik saya menelfon; “kak bagus ya Australia, enak banget yah kak? Enak yah kakak ke luar negeri mulu!”
Saya ingat saya cuma menjawab: “biasa aja dek!”
Adek: “ah masa sih kok di foto2 adek liat bagus!”
Ima: yah bersih si, dingin, tapi biasa aja sih

***

Pagi ini,
Di tengah perjalanan menuju airport Tullamarine, Ibu kos saya berkata:
Ima ketawa terus, senang yah mau pulang?
Saya jawab: Iyaaaaaaa!

Saya terus melangkah dengan senyum.

Jika kini,saya dihadapkan pada pertanyaan: “Elo pernah kemana aja?”
Saya mungkin bisa menyebut beberapa Negara.
Tentu tidak sebanyak teman-teman lainnya.
Tapi saya bisa menyebutkan beberapa kota yang dikenal di dunia.
Melbourne lah yang paling lama saya kunjungi.

Tapi saya sadar,
Melbourne menyenangkan
Bukan karena pemandangannya
Bukan karena objek wisata-nya

Melbourne menyenangkan
Karena saya bertemu dengan orang-orang yang baik luar biasa
Orang-orang yang memperhatikan saya,
Menyayangi saya
Juga menghibur :)

***

Hari ini
Saya menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta
Entah sudah berapa kali saya ke sini
Tapi saya yakin,
Baru kali ini, saya melintasi Soekarno Hatta dengan senyum yang tidak pernah berhenti.

Saya bahagia,
Padahal saya mengunjungi tempat yang kerap saya kunjungi sebelumnya
Saya tersenyum padahal saya hanya melihat pohon melambai.
Saya terus tersenyum padahal saya hanya berbincang sebentar dengan tukang sapu
Saya pun hanya basa-basi.

Tapi Saya terus tersenyum.
Meski saya sedang berusaha menolak paksaan penjual parfum untuk membeli barang dagangannya.

Saya menolak sembari tersenyum
Saya tidak bisa berhenti tersenyum.

Saya bahagia,
Karena saya akan bertemu ‘Keluarga’
Harta yang paling berharga di dunia :)
Keluarga :)

Saya pun sadar,
Ruang dan waktu tidak pernah istimewa.
Objek yang membuat ruang gemerlap pun tidak terlalu istimewa.
Hingga Objek berlabel Keajaiban dunia sekalipun.

Bagi saya,
Mereka yang mengisi ruang dan waktu lah yang istimewa.
Terutama: Keluarga!

Kali ini, saya akan pulang dengan cerita!

Saya pun tidak sabar ingin bernyayi:
“harta yang paling berharga adalah keluarga”
“mutiara tiada tara adalah keluarga”
“selamat sore mama, selamat sore abah!”
“selamat sore kaka, selamat sore adek, selamat sore pak darlis,
selamat sore mba ikem :)


Bandara Internasional Soekarno-Hatta
23 January 2009 Pukul 16: 10 Waktu INDONESIA Barat!

Fatimah Alatas :) :) :) <- terlalu bahagia:)

Luar Biasa

[21 February 2009]

Dua minggu lalu, saya harus ke mesjid untuk suatu urusan.
Saya minta ditemani adik saya.
Ia sedang tidur-tiduran, lalu bergumam: “Kak, Adek gak jadi ikut ya..ngantuk niy, maaap deh kak, malas niy ganti baju lagi”
Saya memohon: “Bentar paling dek..udah begitu aja lah, gapapa kok”

***

Sesampainya di mejid, kami bertemu seorang ibu.
Berbusana muslim satin merah dengan kerudung putih.
Ia menyapa: “anaknya Ibu Haji ya?”
Saya dan adik pun tersenyum, lalu melanjutkan urusan kami.

Adik saya bertanya: Kak,Ibu yang tadi siapa? Kakak kenal?
Saya menjawab: “gatau siapa, ah paling kenal Mama, biasalah ibu-Ibu”

***

Minggu sore, saya hampir tertidur di Bis Metro Mini 610.
Seorang Ibu tiba-tiba melangkah masuk.
Saya terusik.
Penampilannya apik sekali.
Enak diliihat :)

Baru pertama saya melihat orang serapih ini di metro mini.
Ia mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam.
Dilengkapi syal satin, dengan kalung mutiara.
Rambutnya tertata begitu rapih.
Sepatu sendalnya pun enak dilihat.

Saya senang melihatnya.
Saya berkata dalam hati: “Pasti ibu ini mau ke kondangan, cantik!”
Ia duduk di sebelah saya.

***

Bis pun melewati sebuah gedung putih.
Bangunan ini menandakan bahwa saya harus turun sebentar lagi,
Si Ibu tampak heran: “dek, gedung ini, dulu supermarket bukan?’
Saya mengangguk: “benar Bu, tapi sekarang udah ganti nama”
“permisi Bu, saya mau turun bentar lagi”

Ibu itu mencegah saya: “gausah, Saya juga mau turun kok”
Saya bingung: “Ibu mau turun dimana? Di Dapur susu bukan?
Ibu tersenyum: “iya, saya mau turun di situ juga dek, sama kayak adek”

Kami pun turun bersama di dapsus, kependekan dari dapur susu.
Ibu itu tampak sedikit bingung: “dek saya mau naik angkot merah, naiknya dari mana yah dek?”
Saya berusaha memastikan: “hmm, angkotnya S12 bukan bu? Saya juga mau naik itu kok..tunggu aja di sini….bentar lagi juga datang kok”

Beruntung, hari itu perkiraan saya tidak meleset.
Tak sampai semenit, angkot pun datang menghampiri
Kami berdua menaiki angkot merah s-12.
Semua mata penumpang memandang pada si ibu,
Biasalah, orang rapih memang jarang ditemukan di sarana transportasi umum Jakarta.

Sepanjang jalan si ibu terus memperhatikan jalanan.
Sementara saya masih terkagum-kagum dengan caranya berpakaian.
Sepatu sendalnya benar-benar menarik perhatian saya.

Tiba-tiba sepatu sandal itu bergeser.
Saya pun mendengar suara: “Kiri bang”
Si ibu menatap saya dan berkata: “Mari dek, terimakasih”
Saya menjawab: “yoooi maaamiiih… *gak lah saya gak bilang gitu hihi*

Tiba-tiba sepatu sandal itu berhenti bergerak.
Si ibu memohon pada sang supir: “Bang mobilnya majuin dikit Bang, becek nih jalanannya”
Saya berpikir: “waah bener-bener, gak kepengen kotor ni ibu, ribet juga ya”

Si ibu pun turun di depan sebuah rumah mewah.
Tapi ternyata Ia tidak berhenti di situ.
Ia melangkah memasuki gereja
Dengan penampilan apik dan bersih :)
Luar biasa

***

Saya melamun sambil tersenyum.
Salut!

Lamunan saya terhenti karena saya harus turun.

Saya berjalan di komplek saya.
Seorang pemulung menyapa: “baru pulang neng?”
Saya berhenti sebentar: “iya niy bu!” lalu terus melengos.

Tapi sebentar, saya teringat seseorang.
Saya berbalik.
Melihat kembali ke belakang.
Pemulung, karung, tongkat pengait

Lusuh dan Kotor
Membungkuk di sisi tong sampah.

Saya menatap wajah si ibu pemulung.
Saya ingat wajah itu:
“Ahh, si ibu berbaju satin merah di mesjid”

Luar biasa.

****

saya harus seperti mereka :)