Friday, February 05, 2010

t e r l a m b a t :(











Hari ini saya membaca tulisan Dira,

Alumni Melbourne Uni yang baru saja pulang ke Jakarta Januari lalu.

Seminggu lalu Dira bilang : “Kangen Melbourne, Jakarta bikin STRESS!”


Hari ini, Dira bercerita mengenai pengalamannya naik ojek di Jakarta.

Membuat jantungnya berdegup kencang

Membuatnya berteriak-teriak.

Mengerikan,

Mendorong Adrenalin 100 kali lebih besar dari salah satu wahana di Movie World, kata Dira.


Setelah sampai tujuan dengan selamat *fiuh*,

Dira akhirnya turun dengan tertawa.

Tersenyum Lepas :D

Telah melewati: “wahana pemicu adrenalin dengan selamat” :P


Ojek! Salah satu Romantisme Jakarta <- Kata Dira


Menegangkan tapi menyenangkan.

Menantang bahaya tapi pada akhirnya berhasil membuatnya tersenyum

Ojek!


Dira lantas menutup tulisannya dengan berkata: “It doesn’t take long for you to love home

***


Tulisan Dira pun dikomentari banyak Mahasiswa Indonesia di Melbourne,

Salah satunya, Idola saya, Mba Zubaidah Ningsih :D

Berikut komentar Mba Zubeth:

“2008: Zubeth jalan-jalan ke Movie World untuk naik Batwing. Di Australia, untuk menantang maut ZUbeth harus bayar, dan tentu saja terjamin kemanannya , wong Cuma permainan”


“2009: Zubeth pulang ke Flores, naik truk tanpa sabuk pengaman bersama sekelompok ibu-ibu yang pulang dari pasar. Kondisi dasar truk bolong-bolong dipenuhi tumpukan barang seperti karung beras, kelapa, pisang, tong aspal, ayam, dsb. Truk pun dikemudi oleh seorang remaja berusia tak lebih dari 17 tahun. Ngebut tak karuan di jalanan yang sempit, gunung di kiri, jurang di kanan. Zubeth bayar murah, tak ada jaminan Zubeth selamat”


“Tapi, di Batwing orang tak berjuang untuk hidup, di Flores ibu-ibu tetap tersenyum walau kaki tergencet, bau keringat semerbak, tangan kaku memegang barang seraya berpegangan ke truk supaya tak jatuh tapi mereka masih sempat terkekeh dan berkata: “nona, ini kita sebut ombak darat le..di jawa tak ada ko”


Zubeth menutup komentarnya dengan berkata: “bersyukurlah dimanapun kita hidup, jangan takut kesengsaraan yang sekejap, ada banyak mereka yang harus berjuang menabahkan hati tiap hari bergumul dengan sengsara. Jika tanganmu kuasa, ubahlah kesengsaraan itu”

:)

***

Tadi pagi

Saya berlari menuju perempatan Collins dan Williams St.

Ini hari favorit saya, kamis pagi!

Saatnya membagikan majalah !

Ketika melintasi Nandos King St,

Saya melihat seorang perempuan setengah baya termenung menatap tong sampah.

Ia mengenanakan kaos dan celana abu-abu.

Sudah lusuh.

Terlalu lusuh.

Rambutnya pun tidak tersisir.

Entah sudah berapa lama dibiarkan begitu

Ia bengong dengan tatapan kosong; Menatap puntung rokok di sisi tong sampah.

Saya pun terus berlari melintasinya begitu saja.


Ketika hampir sampai di Ujung jalan,

Saya kembali menatap ke belakang.

Perempuan itu masih saja bengong di sana.

Tidak bergerak.


Sementara di depan saya,

Berdiri seorang perempuan membagi-bagikan majalah.

Seperti saya, Ia membagi-bagikan majalah di Perempatan di CBD.

Tempatnya bertugas Hanya berbeda beberapa blok dari pangkalan saya.

Sepertinya Ia ‘orang baru’,


Biasanya seorang laki-laki lah yang berjaga di sini.

Kali ini seorang perempuan Indonesia.

Tidak menyadari bahwa saya juga melakukan pekerjaan yang sama, Ia pun menyodorkan majalahnya ke saya.


Ah, dia sudah mulai membagikan majalah.

Saya pun mempercepat laju lari.

Hingga sampai di perempatan Collins dan Williams St.

Ini pangkalan saya.


Saya melirik jam di HP saya: “ah sudah pukul 7.10”

Saya terlambat 10 menit.


jam 7 lewat 10.

Saya langsung bergerak.

Membagi-bagikan majalah.

Aduh, ada bapak itu melintas.

Saya langsung pura-pura sibuk!


Setiap minggu,

Ada seorang bapak yang mengambil majalah saya.

Tidak seperti pejalan kaki yang lain, Bapak ini senang sekali berbicara.

Terlalu banyak berbicara,

meski Ia tahu saya punya tanggung jawab untuk menghabiskan majalah saya.


Pertama kali melihatnya,

Saya tentu membagikan majalah dengan tersenyum.

Ia pun tersenyum dan bertanya: “kamu dari mana?”

Saya jawab: “Indonesia”


Ia lantas berkata: “Oh, Indonesia, saya punya banyak sekali teman di Indonesia! Teman-teman Indonesia saya selalu tersenyum!

Saya: “Oh ya? Hmm..Orang Indonesia memang suka senyum kalau liat bule!”


Bapak bule: “Kamu pelajar yah? Semua yang bagiin majalah di blok-blok CBD kan pelajar Indonesia yah? Di Bourke St Pelajar Indonesia, Di Willliam St Pelajar Indonesia, Di Queen, King, dan Collins St juga pelajar Indonesia, hampir semua blok kebanyakan perempuan Indonesia. Semunya senang tersenyum.

Ia terus saja berbicara.

Saya pun terus membagikan majalah sambil mendengarkan si bapak ‘mengoceh’ tentang perempuan Indonesia.


Seminggu kemudian,

Ia kembali melintas.

Oh saya malas, Ia pasti akan mengajak ngobrol ngalor ngidul.

Benar saja.

Ketika melintas, Ia bertanya: “Indonesia?” We talked last week, Remember?

Saya (pura-pura lupa): “oh ya?”

Beruntung ketika Ia berbicara, banyak pejalan kaki melintas,

Saya pun pura-pura sibuk hingga Ia pergi begitu saja.

Lama-lama saya pun hafal dengan gerak gerik si bapak ini,


Setiap minggu Ia akan mengambil majalah dari tangan saya.

Tapi rupanya Ia bukan pejalan kaki yang biasa melintas untuk pergi ke suatu tujuan.

Ia sengaja hanya ingin ‘mengoceh’

Sementara pejalan kaki lain menyeberang untuk terus meneruskan perjalanan, Bapak ini menyeberang hanya untuk mengambil majalah.


Ia selalu kembali menyeberang ke arah balik setelah menerima majalah dan tentunya selepas ‘mengoceh’


Dan pagi ini,

Saya kembali melihat si bapak di lampu merah hendak menyeberang.

Saya pun melirik kanan-kiri: “Sial, Cuma ada satu penyeberang”

Saya tidak bisa menghindar dengan berpura-pura sibuk.


Ketika sampai di pangkalan saya,

Seperti biasa ia berkata: “Indonesia?”

Saya menggangguk.

Ia mulai dengan kalimat favoritnya: “saya punya banyak teman di Indonesia”

Dalam hati saya berkata: “Gua udah hafal!”

Si bapak pun berkata: “Orang Indonesia selalu tersenyum”

Saya pun spontan CEMBERUT,.. *haha…sebel abisan*

Ia pun mulai melangkah pergi,

FIuh…


Baru dua langkah, Ia kembali ke arah saya dan berkata: “saya punya teman Indonesia, yang gajinya cuma 30 d0llar”

Saya tertegun: “Heh? Maksudnya? *Maksudlo gue? gaji sekali membagikan majalah memang 30 dollar.. tapi …sejak kapan kita temenan?!*

Ia pun menjelaskan: “teman saya kerja di Yogyakarta, 6 days a week, long hour, Cuma dibayar 30 dollar! Gila..saya cerita sama teman-teman di sini dan mereka bilang itu gila… tapi teman saya yang Indonesia itu selalu tersenyum!”

:)


***

Jam 8.30 Teng!

Majalah saya habis,

Hari ini saya selesai lebih lambat.

Karena Saya lemas dan mengantuk.

Semalaman saya membaca, membaca, dan membaca bahan thesis.

Bosan :(


Saya tidak suka mengerjakan thesis.

Dari sejumlah mahasiswa yang mengerjakan thesis, saya lah yang paling lamban :(

Mahasiswa-mahasiswa lain membuat proposal hanya sekali.

Saya lima kali! :(


Selesai membagikan majalah,

Saya berjalan ke arah pulang.

Mau kembali mengerjakan thesis

Bosan !

Tapi harus dikerjakan .


Di sisi jalan,

Saya lihat toko “cup cake bakery” baru saja buka

Oh saya suka melihatnya,

Lucu Penuh Warna :)

Yumm….


Tapi pagi ini saya lupa bawa dompet

Saya pun Cuma bisa menatap dari luar …


Ketika berjalan melintasi perempatan King dan Collins St,

Saya melihat perempuan pembagi majalah yang tadi pagi saya lihat: “Oh dia belum selesai..padahal ini sudah jam 9 lewat!”

Ia pun lantas memberikan majalahnya pada saya.

Saya menerima majalah dan memilih membaca di tempat duduk tak jauh dari situ.

Sambil membolak-balik majalah, saya memperhatikan sang pembagi majalah bekerja.


Jam 9.20

Ia masih berdiri tersenyum dengan tumpukan majalah di genggamannya.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, saya melihat satu bundle majalah belum dibuka.

Oh, ia masih punya 100 majalah lagi di sana :(

Tapi Ia masih berusaha menawarkan majalah kepada para pejalan kaki

Menawarkan majalah sambil tersenyum :)


Ketika seorang wanita muda melintas dan menolak majalahnya, Ia tersenyum.

Ketika seorang laki-laki dengan kaca mata hitam norak berlabel “GABBANA” menolak majalah yang Ia sodorkan, Ia masih tersenyum. :)


Entah ia butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikannya,

Tapi saya yakin Ia pasti bisa menghabiskan tumpukan majalah itu.


Jam 9.30,

Saya pun melangkah pulang.


Ketika melangkah balik saya melihatnya masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum :)

Saya pun ikut melangkah dengan tersenyum :)


Kelak, Saya pasti bisa menyelesaikan beban thesis saya.

Meski saya tidak secepat yang lain ...

Friday, January 29, 2010

'A r a b ? '

Minggu lalu,
Saya sedang menginap di rumah Korri.
Ketika sedang menonton TV.
Dumas lantas datang membawa pizza untuk makan malam.

Ketika sedang asyik menyantap pizza,
Dumas lantas bertanya: “Im..im..lo arabnya keturunan habaib ya im?

Saya menjawab: “hmm….iya …begitu deh”

Korri lantas bertanya: “keturunan habaib maksudnya apa sih? Emang beda sama arab-arab lainnya?”

Belum sempat saya menjawab, Dumas lantas berkata:
“Oh beda…arab itu ada golongan-golongannya Kor…kayak jawa...ada yang raden ada yang bukan raden…
nah arab itu ada yang habaib dan bukan habaib...Yang habaib itu..fanatik sama sesama golongannya... kalau lagi rame-rame ngumpul sesama arab..tiba-tiba tau yang duduk di sebelahnya bukan keturunan habaib bakal langsung pindah dia …gak mau dia duduk sama yang bukan habaib!”

Selesai dengan penjelasan singkatnya, Dumas lalu meminta persetujuan saya: “Iya kan Im?”

Saya menggeleng ragu: “gak tahu gue Dum..gue jarang kumpul sama arab..gue baru kenal banyak orang keturunan Arab juga di Melbourne…he”

Dumas lalu meneruskan ceritanya tentang ‘kesombongan’ Arab golongan tertentu.

Mendengar cerita Dumas, Korri pun memberi komentar nyinyir: “idiiiih..maless bangeet…”

Itu kali pertama saya merasa rupa arab saya dikaitkan dengan sesuatu yang kurang menyenangkan.

***
Sejak kecil saya tahu saya keturunan Arab,
Karena setiap saya berjalan, anak-anak lain akan memanggil : ”wooo ima arab...woo”
Hahaha.

Tapi Bapak saya tidak pernah memperkenalkan saya pada budaya Arab.
Saya pun lebih tahu tentang budaya Melayu, budaya Ibu saya :)

Di keluarga Bapak saya, budaya Arab sama sekali tidak terlihat.

Tidak terlihat dan sengaja tidak diperlihatkan :P
Meski saya memanggil nenek saya dengan sebutan “Jidah”,
Sementara Kakek, saya panggil dengan sapaan “Enjid”,

Setiap kali saya ke supermarket atau makan ke restaurant, Adik-adik bapak saya akan memarahi:
“ih ima jangan panggil jidah dong…panggil aja Oma!”

Saya pun bingung: “kenapa gak boleh panggil jidah? Kan jidah emang panggilannya jidah!”

Kata om dan tante saya: “Yee..kalau di rumah boleh panggil jidah..ini kita kan gak di lingkungan arab..jadi nanti ketauan arabnya, panggil aja Jidah - Oma…Enjid Panggil aja Opa!”

Hihihi

***
Rumah Nenek saya memang bukan di kampung Arab.
Mungkin hanya keluarga nenek saya lah satu-satunya keluarga Arab di situ.
Akibatnya, Nenek saya pun tidak lagi banyak bergaul dengan orang Arab.



Begitu pula dengan anak-anaknya.
Meski di masa remajanya, mereka mengaku sering ber- ane-ente dengan sesama Arab.

Tapi pindah lingkungan merubah ane menjadi gue
Ente menjadi elo.
Hingga Jidah pun menjadi Oma. He..

***

Waktu saya masih kecil, Adik-adik bapak saya bilang: “Ima nanti kalau udah gede, jangan pacaran sama orang Arab yah…jangan mau kalau nanti ditaksir orang Arab”

Saya yang masih lugu pun bingung dan bertanya: “memang kenapa sih orang Arab?”

***

Selama saya tinggal di Jakarta,
Saya belum pernah merasa dirugikan dengan penampakan Arab saya.
Dari pengalaman saya berkeliling Jakarta,
Warga Jakarta punya kebiasaan mengkaitkan “keturunan Arab dengan sejumlah kriteria positif”

Satu: Berupa 'baik'
Dua: Kaya
Tiga: Alim.
Empat: Adaa deeh… (rahasia..hehe)

***

Kriteria nomor satu malas saya bahas.

Ringkasnya,
Mayoritas Keturunan Arab memang memiliki ciri-ciri fisik seperti ini:
hidung mancung, bulu mata lentik, rambut ikal (atau Kribo :p), mata tajam, dan lain lain :P

Hingga mungkin,
Mereka yang memiliki darah keturunan Arab tidak perlu Operasi plastik pada bagian hidung,

Atau minta dipijit-pijit hidungnya oleh sang Maestro “HAJI JEJE”… (Hahahah…pakabar tuh dia?)

Praktek Haji JEJE: Melayani Pijit-pijit hidung hingga mancung! Haha (ada juga mampet kaliii…gue paling gak suka hidung gue dipencet orang!)


Mereka yang keturunan Arab pun mungkin tidak perlu ke salon untuk keriting bulu mata.
Karena kalau dikeriting lagi nanti jadi berdiri dong bulu mata kitaaah! He...

Mayoritas keturunan Arab juga tidak perlu lagi ke salon untuk dikeriting, dibikin wavy, di blow variasi, dikribo 80’s, dikribo disko, atau dikeriting gantung.. (asal jangan digantung aja :p) He...

Tapi justru, kami senang ke salon untuk di papan, ditipisin, di blow lurus, di bonding, di smoothing, atau di MICUO..haha.. (apa sih istilah salon terbaru..udah lama gak nyalon nih gua..:P)

Mayoritas keturunan Arab sepenglihatan saya punya mata yang tajam,
Tapi untuk yang satu itu, saya tidak punya. Mata saya kecil.

Kata orang: sayu.
Kata nenek saya: Cina!
Tapi itu berfungsi dengan baik :)
***

Itu soal rupa.

Nah, pengalaman saya berkata, warga Jakarta suka menganggap mereka yang memiliki darah keturunan Arab sebagai orang Kaya!

Untuk yang satu ini, saya punya segudang pengalaman,
Tapi Cuma satu yang paling berkesan :p

Waktu saya masih kelas satu SMP,
Guru saya, seorang aktivis Palang Merah Indonesia,
Pernah meminta kerelaan para murid untuk menyumbang korban bencana alam.
Guru saya pun mengelilingi kelas sambil membawa topi untuk menampung uang sumbangan para murid.

Dulu, SMP saya SMP Negeri.
Bukan SMP Swasta.
Tidak banyak orang kaya bersekolah di situ.
Saya pun disekolahkan di situ karena keluarga saya tidak mampu membiayai saya sekolah di sekolah swasta.

Kala itu, Mayoritas murid menyumbang antara 100 hingga 500 Rupiah.
Waktu itu, saya belum jajan seharian.
Di kantong saya masih ada 1000 Rupiah.
Saya pun menyumbang setengahnya, 500 Rupiah.

Tiba-tiba saja guru saya protes: “Masa Arab nyumbangnya Cuma 500?”

Saya pun heran: “yah Bu, kalau nyumbang 1000…nanti saya gabisa pulang dong!”

Guru saya pun berdalih: “Ah bisa aja…Mana mungkin Arab uangnya Cuma 1000…pulang aja naik taksi..nanti minta dibayarin di rumah!”

Saya pun akhirnya menyumbang 1000 Rupiah.

Dan..Hari itu pula, untuk pertama kalinya.
Saya pulang sekolah jalan kaki.

Bersama tiga orang teman yang mau diajak capek, saya pun Jalan kaki sekian kilometer dari pondok labu hingga Bona Indah.

Hahahaha.
Letih tapi Menyenangkan :)
Tidak terlupakan!

***

Itu satu contoh soal rupa arab dan dikira kaya.
Ada banyak contoh, tapi saya bisa menulis buku kalau soal pengalaman ‘dikira kaya’...

Waktu saya SMA, banyak teman tidak percaya kalau saya bilang saya sedang tidak punya uang.
Mereka bilang: “masa Arab gak punya duit!”

Pernah suatu ketika, saya melihat seorang teman yang kebingungan mencari celana baru buat latihan basket di sekolah.

Saya lantas berkata: “pakai celana pendek biasa aja kenapa…gue aja pakai celana pendek yang gue pakai minggu lalu!”

Dia bilang: “yee..malu-maluin lah! elo sih enak…biar pakai celana butut juga, mukalo muka orang kaya!”

Saya pun bingung karena saya merasa tidak butuh muka tipe tertentu untuk bermain basket.
Yang dibutuhkan adalah kaos, celana,sepatu, kaos kaki, mata, lalu tangan dan kaki untuk bergerak.

Tapi beberapa orang butuh celana /// ADIDAS untuk bermain basket.
Serta Kaos Kaki Converse untuk melengkapi

Padahal Celana /// ADINGDAS atau /// ADIMAS pun mungkin tidak lah menjadi masalah.

Kaos Kaki berlabel Conversation atau Convince pun sepertinya cukup MEYAKINKAN. Hahaha.

CONVINCE! bukan CONVERSE! <- bisa ditemukan di Cinere Mall, Pasar Blok M, ataupun Pasar Baru.He

Itu cerita dari lapangan basket,
Belum lagi cerita dari lapangan kaum sosialita.
Kaum yang memang benar kaya.
Selalu berusaha menunjukkan bahwa dirinya kaya.

Seringkali, Cuma mau bergaul sama mereka yang juga kaya.
Tapi, anehnya, sering salah gaul dengan mengira semua Arab itu kaya.
Sudahlah, nanti saya kebablasan mengolok-ngolok.
Mood saya lagi bagus nih. Hihihi
Tapi saya selalu suka para sosialita.
Mereka tahu cara berpenampilan yang baik dan mampu menghibur dengan baik di saat bersamaan.
Menghibur dengan tingkah polah mereka :P
Oh, Sosialita! Gawd! Jo! Megang!

GONG!!!!

***
Terakhir, Hampir semua orang yang saya kenal selalu berasumsi bahwa Arab itu Alim!
Sejak kecil, saya kurang suka pelajaran menghafal.
Karena saya malas membaca :P

Ketika kelas satu SD, setiap pelajaran agama Islam , Saya selalu disetrap berdiri di belakang sepanjang jam pelajaran.

Saat ‘dihukum’ itulah, para murid yang berdiri disuruh menghafal surat-surat dari Juz Amma. Setiap kelas akan berakhir, Guru agama akan memanggil kami yang berdiri untuk mengecek hafalan kami.

Ketika tiba giliran saya, pasti guru saya berkata: “gimana ini? Arab kok gak hafal surat Quran…Juz Amma doang gak hafal! Hampir setiap pelajaran saya malah berdiri di belakang! Arab kok kayak gini!”

Saya pun Cuma bisa mendengarkan.

Hingga ketika saya SMP, Sekolah saya berencana mendirikan organisasi kelompok Rohani Islam – ROHIS.

Seorang teman tiba-tiba menghampiri saya dan berkata: “mau ikutan gak? Nanti lo dijadiin pengurus deh…boleh pilih mau posisi apa”

Kebetulan saat itu, pengetahuan saya tentang Islam masih sangat dangkal,
Saya pun langsung menolak: “ah enggak ah…gue ga bisa baca Qur'an..malu ah gue..masa ikut Rohis tapi ga lancar baca Qur'an..gak ah..gak pantes..malu sama anak lain”

Sedang mencari anggota, teman saya itu pun membujuk: “loh gapapa…justru nanti belajar…. Tapi kok aneh banget sih lo..arab gabisa baca Quran…Arab Murtad Lo!”

***
Arab Murtad!
Entah sudah beberapa kali saya mendengar istilah itu setiap kali saya tidak paham suatu aspek tentang Islam.
Mungkin Buat banyak teman saya: Arab itu Harus Tahu Tentang Islam.
Sebuah Harapan yang baik :)
Hingga banyak warga Jakarta mengira orang Arab itu Islami :)

***

Setiap berpergian bersama teman, Saya senang mengajak teman mampir atau menginap di rumah.
Teman saya pun kebanyakan 'murahan' semua. He...
Mau-mau-an diajak sempit-sempitan nginep di kamar kakak/adik saya.

Saya tidak punya kamar di Rumah Jakarta, Tapi saya senang mengajak teman saya menginap untuk tidur di kamar kakak/adik saya.
Kalau membawa teman, saya jadi punya alasan untuk menguasai salah satu kamar. Hiahaha. Sekali-lah saya menjadi bos. Membuat adik/kakak saya tak berkutik…Hihihi.

Kata teman-teman yang pernah mengunjungi rumah saya: “Kalau ke rumah Ima tuh ga berasa kayak ke rumah orang Arab…beda aja atmosfernya sama rumah-rumah orang arab yg lain”

Entah apa maksudnya.
Tapi ketika Ibu saya pulang dari Haji, Ibu saya membawa banyak sekali pajangan dan lukisan.

Rumah saya pun menjadi penuh pajangan dari Mekkah.
Di Ruang tamu terpajang: Sebuah lukisan Masjidil Haram
Di dekat pintu pun digantung: Sebuah bingkai besar bertuliskan ayat Qursi.
Di Ruang makan ada lukisan bertuliskan kalimat-kalimat Allah.

Hingga suatu saat, Seorang teman saya bertamu dan berkata : “Rumah lo sekarang Arab Banget!”

Oh sepertinya saya mulai paham maksudnya!
Alhamdulillah :)

***
Saya pun heran ketika minggu lalu Dumas menanyakan stereotip yang ‘tidak bagus’ tentang keturunan arab.

Jujur, baru pertama saya merasa darah arab saya dikaitkan dengan sesuatu yang ‘tidak menyenangkan’

Pengalaman saya selama ini menunjukkan kencenderungan warga Jakarta untuk menilai keturunan arab itu: ‘berupa baik’, ‘kaya’, dan ‘alim’. He. Amiiin :)

Kalau soal tidak mau duduk dengan mereka yang tidak segolongan itu saya kurang paham.

Tapi pengalaman saya berkata, setiap kali saya pindah tempat duduk, itu pasti disebabkan oleh sebuah ketidaknyamanan.

Ketidaknyamanan karena SEMPIT!


Sempit yang terkadang tidak bisa saya tahan!

Seperti mayoritas perempuan keturunan arab lainnya, saya dianugerahi sesuatu yang BESAR :P

Jadi, Harap Maklum kalau saya tiba-tiba pindah tempat duduk :P


Assalamualaikum!!!! <- salam takzim anak-anak Jakarta, bukan hanya keturunan Arab :P

Thursday, January 28, 2010

Perempuan sejati?


Beberapa hari yang lalu,
saya melihat teman saya di tag dalam sebuah note,
Note itu di post oleh seorang laki-laki.
Judulnya saya lupa.
Kira-kira "Mencari Perempuan sejati".

Isinya? He...
Isinya adalah keluhan seorang anak lelaki.
Seorang anak lelaki yang mengeluh pada ibunya karena tidak kunjung menemukan perempuan yang baik.
Seorang perempuan sejati.

Lalu ibunya pun menasehati dan berkata: "percuma kamu mencari perempuan sejati, jaman sekarang sudah tidak ada lagi perempuan sejati!"

Begitu kata sang Ibu!
Anaknya lantas bertanya: Kenapa?

Sang Ibu lantas menyebutkan sejumlah kriteria yang "BAIK"

Membuat saya berdecak.
Karena memang saya tidak pernah menemukan perempuan "sebaik" itu.

Membuat saya tergelak,
karena ada kalimat berbunyi seperti ini: "Nak, perempuan sejati itu sudah habis! perempuan jaman sekarang mana ada yang mau mencuci celana dalam suaminya"

Perempuan sejati = Mencuci celana dalam laki-laki?

HaHaHa.

Saya tertawa seketika.
Karena saya teringat pengalaman mencuci celana dalam pria.
Hahaha

Dulu, saya pernah beberapa kali mencuci celana dalam Bapak dan Kakak Lelaki saya.

Bukan kemauan sendiri.
Tapi tidak punya pilihan lain.
Disuruh Mama.
Haha.

Setiap pembantu saya tidak masuk,
Ibu saya akan mudah marah,
Karena mendadak pekerjaan rumah tangga jadi menumpuk.
salah satunya mencuci,

Kata ibu saya: "mencuci itu pekerjaan paling berat"
saya pun seringkali dimarahinya kalau tidak membantu.

Ketika ibu saya mulai mencuci, Ia pun akan meminta saya membantunya mencuci.

Setiap kali ibu saya mencuci,
maka rumah saya akan penuh dengan ember-ember.
Ketika Ia mulai memanggil saya.
Cuma Ada satu ember yang selalu menjadi incaran saya.
Tidak lain tidak bukan adalah ember celana dalam.
Hiahaha.

Jujur, saya paling suka membantu mencuci celana dalam.
Termasuk mencuci celana dalam Bapak dan kakak saya.

Bukan apa-apa.
celana dalam itu kecil dan ringan.
Tidak lebar seperti mencuci seprai atau kemeja kerja Bapak saya.
Tidak berat seperti mencuci handuk atau celana jeans atau celana kerja bapak saya.

Mencuci celana dalam itu paling mudah :P

Perempuan sejatikah saya?
Tentu saja bukan.
Saya tidak mencuci dengan inisiatif sendiri.
Cuma membantu.

Ibu saya lah yang mencuci.
Perempuan sejati kah dia?
Tidak juga.

Ibu saya mencuci karena pembantu kami tidak datang.
Itu pun dia mencuci dengan marah-marah dan meminta bantuan saya.

karena biasanya pembantu lah yang mencuci seluruh pakaian kotor di rumah kami.
Lantas, sang pembantu kah sang perempuan sejati?

Bisa jadi.
Tapi dia mencuci karena dibayar.
Pekerjaannya memang mencuci.

Ketika dia absen bekerja,
Ibu saya pun mengerjakan pekerjaannya: MENCUCI!

saya pun ikut mencuci tumpukan pakaian.
Termasuk celana dalam laki-laki.

Tinggal Rendam, Kucek atau sikat, lalu Bilas hingga BERSIH!
Begitulah sejatinya cara mencuci. Hehe

Saya pun yakin,
Kakak saya pasti pernah pula ikut membantu mencuci tumpukan celana dalam,
Termasuk celana dalam perempuan.
Hahaha

Lelaki sejati kah dia?


HaHaHa


***

Itu namanya kami semua malas sejati! :P

Saya pun semakin yakin tulisan yang baca itu pasti karya lelaki!
Bukan nasehat seorang Ibu.

Karena seorang Ibu tidak berkhayal hingga urusan celana dalam!
Itu pasti tulisan Laki-Laki 'sejati'! :P




***



PS: Meski kakak saya ngomel ketika ia harus membantu mencuci celana dalam ibu dan adik-adiknya, saya yakin dia Ikhlas. He..

Saya pun ikhlas ketika mencuci celana dalam dia. Nah itu namanya, kami saling menyayangi sejati.. Hihihi

Saturday, January 16, 2010

dia


Seminggu yang lalu,
Teman lama saya menyapa di Facebook: “Apa kabar Im? Kapan pulang ke Jakarta? Ada YM ga? Add gue yah…
Saya bilang: “hey…kabar gue baik..agak sedih sih harus belajar..sementara semua liburan!”
Ia membalas: “gapapa im, yang penting kita tetap kuliah, wujudkan impian kita! :) “
***
Kita?
?
***
Teman saya itu sejak dulu memiliki banyak mimpi.
Terlalu banyak hingga saya tidak pernah mengerti.
Ia selalu ‘baik’ pada saya.
Rajin mengucapkan kalimat-kalimat yang ‘Indah’,

Seringkali Ia bilang saya cantik
Tapi Ia akan mengeluh ketika ada jerawat di wajah saya.
Ia akan bertanya: "kok kucel sih?" , setiap kali penampilan saya tidak rapi.
Setiap malam pun Ia mengirim pesan pendek.
Seringkali Ia menelpon.
Meski seringkali tidak terjawab,
Tetap saja Ia baik.
Baik khas ‘lelaki’
***
Menjelang keberangkatan ke Melbourne, saya menyempatkan diri bertemu dengan teman-teman.
Saya lantas mendapat banyak bingkisan.
Dari sang teman lama, saya menerima banyak hadiah.
Salah satunya: sebuah pin dengan foto dirinya disertai tulisan: “admiring you”.
Seorang teman lain juga datang menghampiri memberikan dua buah cake besar.
Ibu saya tersenyum: “waah, baik banget yah teman-teman ima… cake nya beli di toko mahal lagi…ini cake 2 loyang..dari satu orang Im?
Saya mengangguk: “Iya, emang teman Ima baik-baik”
Ibu saya menggoda: “ah, masa sih cuma teman, teman apa ‘teman’?
Saya pun menjawab tegas: “Teman!”
***
Teman,
Sejak kecil saya suka berteman.
Kakak laki-laki saya lah teman pertama saya.
Ia selalu mengajak saya bermain: sepeda
Pukul-pukulan
Balap lari
Merakit tamiya
Mengoleksi kartu NBA
Hingga bermain video game.
Hingga saya bisa mencari teman sendiri.

Terbiasa berteman dengan kakak saya, saya pun merasa lebih cepat akrab dengan kaum lelaki.
Hampir seluruh teman saya pernah saya kenalkan pada orangtua saya,
Tapi sewaktu saya ke Melbourne.
Entah kenapa: Abah saya begitu rajin menasehati.
Ia pun seringkali bertanya ketika melihat foto saya dengan teman laki-laki di facebook.

Pernah suatu ketika Ia marah: “Ima, itu foto berdua sama siapa? Ingat yah amanat abah. Dan Ima jangan kebanyakan main sama anak laki! Jangan lupa sholat, ratib dan Qur'an dibaca”

Saya tahu maksud abah saya.
Amanat itu pun tidak akan saya langgar.
Saya lantas membuka facebook.
Melihat foto yang dimaksud.
Rupanya foto bersama teman yang tidak begitu saya kenal.

Kala itu saya menghadiri sebuah acara.
Seseorang mengajak berfoto.
Saya pun tidak menolak.
Beberapa hari kemudian: Foto itu ada di facebook.
Hingga Abah saya melihatnya dan protes.
Saya pun menjelaskan:
“Tenang bah, Ima baru kenal orang itu, Cuma ketemu sekali di suatu acara. Foto itu gak ada artinya, Cuma terkadang orang yang melihat suka memberi arti sendiri. Ima udah tahu asal usul sekarang, Qur'an dan ratib tiap hari dibaca, Insya Allah tidak akan mengecewakan keinginan abah”
Alhamdulillah!, jawab Abah saya.
***
Sejak kecil saya terbiasa melihat orangtua saya beribadah.
Ibu selalu selalu mengaji di pagi hari,
Mengerjakan tahajud di kamarnya.
Ia pun seringkali memarahi anak-anaknya yang malas beribadah: “Susah anak jaman sekarang dibilangin, kalau ada rejeki, Mama pengen ngajak anak-anak liat Ka’bah, biar kebuka tuh pikirannya!”

Sementara Abah hampir tidak pernah marah.
Ia hanya rajin mengingatkan untuk mengerjakan sholat 5 waktu
Tapi, setiap hari saya melihatnya beribadah ketika pagi, siang, malam hingga menjelang pagi datang.
Abah pun rajin membaca Qur'an di ruang keluarga
mengerjakan sholat tahajud di kamar saya dan adik saya
memutar sholawat Nabi di mobilnya
membaca berbagai doa dan kitab dimana saja.
Saya tidak pernah tahu pasti kitab apa saja yang Ia baca.

Tapi Abah seringkali menaruh ‘barang-barangnya’ di kamar anak-anak.
Hingga anak-anaknya seringkali protes.
Tapi Ia selalu saja mengulanginya.
Saya, kakak, dan adik pun menyebut CD-CD berisikan sholawat rasul sebagai “lagu abah”.He
Buku-buku kumpulan doa sebagai “buku abah” he.
***
Setiap perjalanan pagi ke sekolah,
Abah selalu duduk di kursi depan.
Saya dan adik selalu bernyanyi lagu populer di kursi belakang.
Di sela-sela nyanyian kami: abah selalu menoleh ke kami lantas berkata: “tolong ambilkan buku abah”
Ketika kami bernyayi,
Ia pun selalu membaca bukunya, buku yang jika dibaca terdengar seperti orang berdoa atau mengaji.
***
Hingga ketika saya hendak berangkat ke Melbourne,
Ia menyelipkan salah satu bukunya ke tas saya: “Itu Ratib, dibaca yah entar di sana, jangan gak dibaca”
Saya bingung: “yah buat apaan bah ratib? Ima udah bawa Qur’an kok...Ima gabisa baca arab gundul lagian..ratib isinya arab gundul kan?”
Abah saya tersenyum: “Yee..kata siapa arab gundul? Abah udah beliin yang Ima bisa baca pokoknya!”
***
Di hari awal saya di Melbourne pun saya mulai membuka ratib,
Isinya rupanya kumpulan dzikir dan doa.
Dengan bacaan yang harus diulang-ulang dengan hitungan tertentu.
***
Hingga suatu hari,
Di mobil seorang teman, saya melihat sebuah alat penghitung seperti yang biasa saya lihat di rumah Jakarta.


Itu kali pertama saya menumpang mobil teman itu.
Saya pun belum terlalu kenal dia.
Melihat alat penghitung itu saya spontan bereaksi: “iiih, ada itu!”
Ia lalu memberikannya pada saya.
Saya pun senang.
Dalam hati saya berkata: “akhirnya bisa benar juga bacaan ratib gue” he.
Selama ini saya tidak pernah yakin setiap kali mengulang bacaan dzikir dalam ratib.
Senang rasanya ketika saya bisa mengerjakan amanat abah dengan yakin dan pasti,
Pasti ...karena saya telah memiliki alat penghitung yang saya dapatkan dari seorang teman baru.
***
Teman baru,
Tapi tidak berasa seperti orang asing.
Hampir satu dekade yang lalu, teman saya pernah bertanya: “Ima, menurut lo kapan seseorang bisa lo anggap teman?”
Kala itu saya menjawab: “saat gue tetap bisa merasa nyaman meski gue diam di sebelahnya. Saat gue tidak mencari-mencari obrolan meski suasana hening saat itulah gue merasa nyaman berteman!”
***
Minggu pertama December 2009,
Saya sedang menginap di rumah Dira.
Siang itu,
Saya buru-buru ke uni,
Karena waktu saya untuk mengerjakan proposal thesis tinggal sepekan.
Saya sudah bosan mengerjakan proposal thesis.
Selalu saja gagal .
Membuat saya menangis karena merasa usaha saya sia-sia.

Siang itu,
Sehabis mandi
Saya pun buru-buru ke kampus seketika
Saya berpakaian seadanya.
Mengenakan kaos, jeans robek dan sandal jepit.


Saya bahkan Tidak menyisir.
Amburadul!
Jika Abah dan Mama saya melihat: Mereka pasti tidak membiarkan saya ke luar rumah.


Ketika sampai di Uni,
Suasana kampus begitu sepi.
Amanlah, tidak akan ada teman yang melihat saya berantakan :P
Saya pun mencari bahan yang saya perlukan di perpustakaan.
Ketika menyusuri rak buku di lorong lantai tiga,
Seorang lelaki tersenyum kepada saya.
Saya tidak kenal siapa dia.
Saya pun terus melangkah.
Mungkin saja Ia tersenyum pada orang di sebelah saya.
Hingga Ia memanggil nama saya.
Saya pun menoleh.
Ia terus tersenyum.
Saya bingung.

Pria di depan saya lantas menyebut namanya.
Ia menyapa dengan ramah: “how are you? How’s your thesis?
Dalam bingung, saya pun membalas pertanyaan pria berkacamata ini.
Saya tidak bisa melihat jelas mukanya.
Wajahnya tertutup janggut dan rambutnya yang lebat.
Seperti saya, sepertinya hari itu Ia tidak menyisir:P

Sosok lelaki tinggi dalam balutan kaos hitam dan celana pendek terus berbicara di hadapan saya.
Saya berusaha mengingat *dimana yah saya pernah kenal dia*
Asing...
Tapi, entah mengapa saya merasa berbincang dengan seseorang yang mengenal saya.
Ia bilang pernah beberapa kali melihat saya sebelumnya.
Hingga Ia berkata: "I am Y's brother!"
Saya tersenyum: “Oh…Y! :)
***
Y adalah salah satu teman yang saya kenal ketika pertama sampai di Melbourne.
Saya baru sekali bertemu dengannya.
Anaknya ramah sekali.
Pertengahan tahun lalu, Ia mengajak saya bertemu di Moomba Festival.
Tapi kami batal bertemu karena HP Y hilang di perjalanan.
***
Bulan November 2009,
Y menyapa saya di Facebook: “hey, apakabar?”
Saat itu saya sedang sedih:
“sedih nih.. stress bikin thesis..harus belajar terus ..malah teman-teman banyak yang liburan....sepi deh:(. Saya ingin main ke rumah om tante tapi mereka sedang naik haji”
Y bilang: “main-mainlah ke rumah, nanti aku temani kamu jalan-jalan, jangan sedih!”
Saya pun menyambut:
“asyik... iya,nanti saya main…saya lagi kangen liat suasana keluarga…mungkin kalau liat suasana rumah kamu saya bisa senang…saya kangen lihat sebuah keluarga berinteraksi”
***
Tak disangka, di awal December saya bertemu kakaknya Y di Perpustakaan.
Seperti Y, kakaknya pun ramah.
Meski baru pertama bertemu, Ia bilang: “Main-main lah ke rumah, kita baru pindah, masih berantakan..tapi main-main lah”

Saya pun lantas melanjutkan mencari buku-buku saya.
Hingga saya bertemu lagi dengannya di lantai dasar perpustakaan,
Kami pun berbincang-bincang di taman depan perpustakaan,
Ia lantas menanyakan thesis saya dan berkata:
“pasti susah yah buat kamu nulis dalam bahasa inggris… tapi tulisan kamu bagus… maksud saya notes-notes kamu di Facebook”
Saya bingung seketika: “Kamu paham bahasa Indonesia?”
Ia mengangguk: “Ya, meski ada beberapa kata yang tidak paham”

Kami lantas berpisah.
Sebelum berpisah Ia berkata: “Mungkin minggu depan kalau bisa dinner, I’ll pick you up!
Saya heran dengan undangan orang asing di depan saya tapi anehnya kala itu saya tidak menolak ,he..: “OK..nanti saya telpon Y, adik kamu!”

Sesampainya di rumah, saya pun bercerita pada teman saya,
Saya bertemu orang asing.
Tapi tidak berasa asing.
Saya pun mengiyakan ajakannya untuk dinner suatu saat nanti.
Teman-teman saya pun menggoda: “cieeeeeeeeeee…….”
Saya menanggapi dalam ragu: “ciee apaan..paling basa-basi…orang gue tadi gembel berat…amburadul gitu..nih lo liat sendiri..”
Teman-teman saya tertawa: “Hahaha…iya hari ini lo berantakan..tapi gapapa kan jadi tau lo aslinya..hahaha”
Saya pun tertawa: “Sial..haha”
***
Beberapa minggu kemudian,
Ajakan untuk dinner pun datang.
Saya sempat berpikir untuk mengajak teman agar tidak canggung,
Saya sempat bingung ketika tahu teman baru saya mengundang saya untuk dinner di rumahnya, bersama Ibu dan adiknya.
Saya pun bercerita pada teman saya.
Mereka heboh seketika: “Waaaaaaaaaaaa Ima lo ketemu cowo baik-baik!”`

Sehari sebelum dinner,
Saya ke perpustakaan bersama Nisa, housemate saya,
HP saya berdering tapi tidak sempat terangkat.
Nisa bertanya: “Siapa?”
Saya menggeleng: “gak tahu…gak kenal nomornya”
Saya pun lantas mendengarkan pesan suara : “Oh Ibunya itu..teman yang gue baru kenal, ibunya nanya soal dinner besok”
Nisa pun heboh: “wah….kok ibunya nelpon? Waaaaaaaaah….!”

Saya lantas mengajak Nisa untuk pergi bersama: “Udah lo ikut aja yuk, temani gue besok, mereka kayaknya baik kok..gue belum terlalu kenal aja diajak makan ke rumah..kayaknya emang ramah banget!”
Tapi Nisa lantas menolak ajakan saya untuk ikut makan malam bersama di rumah sang teman baru.
***
Keesokan harinya, saya pun tiba di rumah teman baru saya.
Kala itu saya sudah menyisir rambut saya.
Ia pun telah mencukur janggut dan rambutnya yang lebat.
Rapih :)
Sebelumnya, saya merasa tidak mengenakan pakaian yang pantas untuk sebuah undangan makan malam.
Karena pakaian saya sudah lusuh.

Sesampainya di sana,
Teman saya mengganti celananya dengan sarung.
Sementara ibunya mengenakan pakaian rumah.
Sederhana :)

Ibunya tiba-tiba berkata: “lucu baju Ima!”
Saya bingung: “yah tapi udah belel..udah jelek”
Ibunya tersenyum: “justru semakin enak kan semakin belel!”
Saya pun tersenyum :)
Ingin rasanya saya mengangkat jempol saya dan berkata : “benar sekali tante! Emang makin belel baju makin top !” :P
Hahaha. Tapi tentu saya tidak melakukan itu.

Tapi menyenangkan rasanya,
Menemukan seorang ibu yang berpikir demikian.
Karena ibu saya selalu marah ketika melihat saya suka mengenakan pakaian lusuh.
Malu kalau dilihat orang katanya.
***
Mungkin hanya kepada keluarga saya sajalah, saya tidak pernah merasa malu dalam bersikap.
Tapi anehnya malam itu pun saya tidak malu ketika tidak mampu menghabiskan makanan di piring saya.
Bukan karena tidak enak,
Tapi tenggorokan saya sedang sakit, hingga saya kehilangan nafsu makan.
Makanan saya pun tidak saya habiskan ketika saya diundang makan di rumah orang.
Tidak sopan :(

Tapi entah kenapa saya tidak merasa sungkan,
Mungkin karena hari itu saya melihat suasana keluarga yang penuh canda,
Lucu.
Ramai.
Menyenangkan.
Seperti suasana keluarga saya.
Penuh tawa dan apa adanya.
Tidak dibuat-buat.

Menit pun berlalu dengan cepat,
Teman saya lantas meminta izin dengan sopan: “Boleh saya antar Ima pulang”
Saya mengangguk.
Saya sempat terpana ketika melihat dia mendengarkan perintah Ibunya dan mengerjakannya seketika.
Patuh :)
***
Di perjalanan pulang,
Saya tidak banyak berbicara.
Saya diam karena telalu mengantuk setelah menengguk obat flu.
Saya pun mencoba tidur tanpa perasan bersalah disetiri teman baru di sebelah saya.
Hahaha.
Sepertinya Saya berlaku menyebalkan . Tapi saya terlalu mengantuk :P

Entahlah,
Mungkin saya tidak sopan tidur di mobil teman yang baru saja saya kenal,
Tapi saat saya bisa diam tanpa merasa canggung,
Saat itulah saya tahu bahwa saya merasa nyaman dengan seorang teman.
***
Teman yang asing.
Tidak berinteraksi dengan saya sesering teman-teman lainnya.
***
Beberapa minggu yang lalu, Ia sedang menuju Uni.
Dia pun mengirim pesan pendek kepada saya : “are you at uni?”
Saat itu saya sedang tidak di Uni, saya sedang di perjalanan.
Ia bilang: "Oh i'm at uni now to library. thought i'd disturb you if you were there. I won't be staying. See you another time I guess. goodluck with thesis."
Diingatkan tentang thesis, saya pun membalas SMS sembari meminta kesediaannya untuk mengoreksi grammar bahasa inggris pada draft thesis saya kelak.
Dia pun tidak menolak.

Hingga suatu malam,
Saya terbangun di tengah tidur.
Saya melihat HP: Ah masih pukul 2.00 pagi.
Di layar HP, saya melihat lambang amplop.

Rupanya dua jam yang lalu,
Ada sms masuk.
Dari si teman baru.
Ia bilang: “When are you sending me your draft?”

Saya panik seketika.
Sepertinya supervisor thesis saya bertambah satu.
Haha

Saya pun membalas smsnya meminta maaf karena saya belum mengerjakan apa-apa.
Saya membalas SMS di waktu banyak orang tertidur.
Saya pun mencoba melanjutkan tidur hingga HP saya berbunyi tak lama kemudian.

SMS balasan dari teman saya: “No worries, just wondering. I thought you were going to send it to me soon”

Seketika, saya pun tidak lagi mengantuk.
Saya mencoba melanjutkan tidur tapi tidak mengantuk.

Hingga,
Untuk pertama kalinya, saya mendadak mengerjakan sholat tahajud di Melbourne.

Solat Tahajud
Atas keinginan sendiri!
Bukan disuruh Mama, meski telah ribuan kali Ia menasehati saya.
Selesai sholat,
Saya pun lantas membalas sms teman baru saya.

Teman saya yang asing,
Tapi tidak pernah berasa asing.
Minim dalam berinteraksi,
Tapi anehnya,
Berinteraksi dengannya selalu membawa saya mengerjakan apa yang seharusnya saya kerjakan!

Dia,
Istimewa!

Bukan hanya karena Ia rupawan
Ramah
Patuh pada orang tua
Lucu
Sederhana
Sopan
Tapi,
karena Ia mampu mendekatkan orang lain pada sesuatu yang baik :)

Dia ...

Friday, January 15, 2010

j a t u h

14 Januari 2010,
Saatnya saya kembali bekerja di CBD,
Membagikan majalah :)

Pagi itu, saya telat meninggalkan rumah.
Saya bangun pagi,
Tapi saya membersihkan rumah hingga lupa waktu.

Saya tidak suka melihat yang kotor ataupun berantakan.
Housemate saya bilang : “elo clean freak!
Mungkin memang benar begitu adanya , he :p

Di perjalanan ,
Saya melihat beberapa motor berjejer di parkiran!


Ah bagus,
Saya selalu suka motor,
Buat saya naik motor lebih menyenangkan dari mobil :)

Lebih menyenangkan karena lebih hidup!
Motor tidak pernah memisahkan pengendara dan penumpangnya dari kehidupan di sekitarnya.
Sementara mobil dengan kaca-kacanya 'menutup' penumpang dari kehidupan sekitar.

Di Jakarta, mobil selalu sejuk dan nyaman.
Sementara udara di luar begitu panas, diikuti para pengemis yang memohon di balik kaca mobil.
Mobil dengan kesejukan.
Kenyamanan yang terpisah dari lingkungan sekitarnya

***

Di Melbourne, saya semakin senang melihat motor.
Motor disini bagus-bagus.
Penuh warna :)

Saya terpana sejenak.
Mengamati motor dan skuter.
Suka :)

Ah, lampu buat pejalan kaki telah berwarna hijau.
Saya harus segera menyeberang.
Para pejalan kaki pun mengenakan kacamata hitamnya.




Musim panas telah tiba.
Ah, saya belum punya kacamata hitam.
Tapi saya selalu punya topi :)

Saya pun sampai di perempatan,
Mengenakan rompi saya,
Dan mulai membagikan majalah.

Di sisi perempatan,
Saya melihat perbaikan jalan.
Sebuah papan bertuliskan “Pedestrians, watch your step” pun terpampang di sana.
Tanda peringatan agar para pengguna jalan tidak tersandung dan terjatuh.

Jatuh!
Beberapa kali saya terjatuh dalam hidup,
Jatuh, bangun, jatuh dan bangun lagi, dan jatuh lagi..he


Pagi itu,
Beberapa kali majalah saya pun terjatuh dari genggaman saya,
Mungkin karena saya kurang erat menggenggamnya.
Mungkin karena angin pagi itu lumayan besar.

Hingga majalah saya pun terbang dan terjatuh.
Terjatuh hingga 4 kali! :(

Pertama kali terjatuh,
Saya sedang mengamati seorang perempuan yang melintas.

Ia menerima majalah saya.
Saya bisa melihat tata riasnya dari dekat.
Aduh, Ia menyapu eye shadow berwarna merah mengkilat di kelopak matanya yang gelap.
Glittery di Pagi hari!
Aduh!

Bibir perempuan ini pun tersenyum dengan percaya diri.
Merah mengkilat.
Senada dengan kemeja satin merahnya.
Serta Sepatu hak tingginya.

Semuanya merah mengkilat.
Sepertinya saya butuh kacamata hitam kali ini :P

Dan angin pun berhembus.
Majalah saya terjatuh.
Seorang pria tua mengenakan jas abu-abu menunduk dan mengambilkan majalah saya.
Ia lantas melangkah mendekat.

Saya tersenyum: “Terima kasih banyak, ambil saja buat kamu yah”

Dia bilang: “loh, tadi kamu udah kasih saya satu? Kamu lupa ya?"

Saya termenung: “hmm..mungkin saja saya lupa”

Saya pun melanjutkan bekerja.
Sembari memperhatikan mereka yang melintas.

Saya suka pekerjaan ini.
Saya bisa mengamati cara berbusana para pejalan kaki.

Di Collins st, mayoritas pejalan kaki punya selera yang bagus dalam berpakaian.
Mungkin karena ini lokasi perkantoran.
Atau mungkin karena ini lokasi ‘mewah’.
Entahlah.

Tapi, di sepanjang Collins St,
Banyak toko-toko desainer ternama dunia,
Harganya ribuan dollar.

Tentu saja saya tidak mampu membelinya.
Tapi saya cukup senang berdiri membagikan majalah di Collins St setiap Kamis pagi,
Saya senang bisa melihat busana yang terpadu dengan perpaduan warna yang apik
Suka :)

Dan majalah saya pun terjatuh lagi,
Kali ini seorang wanita muda dalam balutan gaun abu-abu menunduk dan mengambil majalah saya,
Saya pernah melihat gaun ini di gerai PILGRIM atau CUE.
Entahlah, tapi gaun ini tampak bagus pada dirinya.

Ia pun tersenyum lalu pergi membawa majalah saya.
Yes! Majalah saya berkurang satu :)
Terima kasih :)

Tak berapa lama,
Seorang nenek melintas.
Entah Ia seorang nenek atau perempuan bule yang tampak lebih tua :p
Tapi Ia selalu tampak sehat , aktif, dan 'cuek'.

Setiap kamis pagi Ia melintas dan menolak pemberian majalah saya. He.

Pagi itu, saya melihatnya dalam balutan celana hitam dan kemeja bunga-bunga.
Kemeja bermotif bunga besar membuat tubuhnya tampak semakin besar :(

Tapi ada yang berbeda dari dirinya pagi itu.
Oh, Ia mengganti warna rambutnya, dari pirang menjadi hitam.
Rambut hitam membuat wajahnya lebih cerah :)
Saya suka :)

Dan majalah saya pun terjatuh lagi..

Tak disangka, Ia pun menunduk.
Saya menyiapkan tangan saya,
Saya tahu Ia tidak pernah menerima majalah saya. He.

Saya pun ikut menunduk ke dekatnya.
Ah, saya kenal aroma parfumnya, ini wangi nenek saya :)
Rupanya Ia mengenakan parfum yang sama dengan nenek saya.
Suka :)

Ia pun mengembalikan majalah saya.
Saya tersenyum: Terimakasih…… (nenek)…hehehe *gak lah saya gak bilang nenek…he*

Hingga waktu menunjukkan pukul 8.25,
Saya masih punya segelintir majalah,
Sebentar lagi saya selesai !

Saya tidak sabar ingin menyeberang ke Subway untuk membeli ‘seafood sensation’
Saya belum sempat sarapan.

Brak!
Sekali lagi, majalah saya jatuh.
Kali ini bukan satu.
Tapi dua sekaligus.

Seorang pria muda lantas membungkuk dan mengambil majalah saya.
Ia mengambil satu dan mengembalikan satu: “ini satu lagi saya kembalikan, buat yang lain”

Saya tidak sabar ingin menyelesaikan pekerjaan: “kalau mau ambil dua juga boleh kok”

Ia pun membalas dengan senyum: “Satu saja cukup…hmm…where do you get your hat?”

Saya terdiam…. *yah ini kan topinya si Korri..beli dimana yah tu anak..he*

Saya lantas menggeleng: “saya tidak tahu, ini topi teman saya…tapi bagus ya..”

Ia lantas tersenyum dan melangkah pergi.

Saya pun pergi membawa satu majalah terakhir.
Buat saya saja.
Saya mau pulang, saya lapar.He

Ketika hendak pergi saya kembali menatap papan bertuliskan : “Pedestrians, watch your step”

Papan peringatan agar pengguna jalan tidak terjatuh.

Jam 8.30 saya pun siap meninggalkan perempatan,
Senang rasanya bisa selesai lebih awal dari jam kerja yang seharusnya.

Semua itu tidak lepas dari bantuan mereka yang baik.
Mereka yang membungkuk ketika majalah saya terjatuh.
Sepertihalnya teman yang bersedia menolong setiap kali saya terjatuh.


Terima kasih :)


“pedestrians, watch your step!”

“people, watch your attitude!"

Monday, January 11, 2010

Ya ALLAH

Malam tahun baru 2010.
Seperti biasanya, Housemate saya menjelajah internet.
Tiba-tiba saja Ia berkata: "Gus Dur meninggal dunia"
Saya tersentak.
Saya langsung mencari Hp Indo saya.
Dan mencari nomor Inay.
Inay adalah teman saya, putri Gus Dur.
Rupanya, nomor-nomor teman telah terhapus dari HP lama saya .


Saya pun lantas membuka facebook.
Mengakses profil Inay.
Rupanya hari itu ulang tahun Inay.
Mendadak saya benar-benar merasa sedih.
Tidak terbayang bagaimana perasaan Inay saat itu.
Ayahnya meninggal di malam ulang tahun Inay :(

Meski telah ribuan kali saya mendengar orang berkata: "ulang tahun sama dengan berkurangnya umur"

Baru kali itu saya mengerti bahwa ulang tahun tidak harus dirayakan dengan pesta.
Tapi juga mengingat mati.

Setiap teman saya ulang tahun saya selalu mengucapkan: "semoga bahagia"

Ketika membuka profil Inay.
Saya bingung mau berkata apa.

Meski saya tahu orang-orang alim tentu akan bahagia ketika mati.
Karena mereka mendambakan untuk segera bertemu Tuhan.

***

Kemarin saya bermimpi,
Saya bermimpi melihat kuburan diri sendiri...

Ya Allah...

Sebelumnya,
Saya sedang berada di suatu pesta.
Di pesta itu semua teman saya hadir.


Di mimpi,
Semua teman saya menjadi 'jahat'
Semuanya pergi dan meninggalkan saya :(

Tapi seseorang lalu datang dan menemani.
Ia bukan teman dekat saya.
Tapi saya tahu dia.
Kami lantas berbincang-bincang.
Ternyata Ia baik.

Saya pun senang Ia hadir di saat semua teman pergi.
Saya lantas bertanya: "gue masih bisa percaya kan sama elo?'

Dia berkata : "siapa bilang gue baik? gue sama aja kayak yang lain!"

Ia pun tertawa.

Saya takut dan berlari.

Hingga melihat kuburan diri sendiri.



Ya Allah.....

Saya melihat (mati) ketika saya (hidup)


Saya lantas terbangun dalam gelisah,...
Tapi saya lantas tertidur lagi.
Tidak mengerjakan solat subuh seketika.
Saya pun akhirnya mengerjakan solat ketika waktunya telah habis :(

Malam ini,
Sebelum tidur saya membaca tulisan saya yang berjudul "mimpi"
Sebuah tulisan tentang suasana tidur di rumah,
Saya kangen adik dan kakak saya.

Sebelum tidur, saya berniat untuk bangun di waktu subuh.
Saya berdoa: "Ya allah, pokoknya bangunin saya solat subuh!"

Malam ini,
saya bermimpi tidur di sebelah adik saya.
di kamarnya yang berantakan :P
tapi saya senang berada di sebelahnya.

Hingga tidur saya lantas terusik,
Karena mendengar kakak saya terus memanggil: "ima bangun ima"
Begitu terus berulang kali.

Saya tak menghiraukannya.
Hingga saya merasa panas.

Saya pun tidak bisa lagi tidur.
Saya bangun dan menyadari pertemuan dengan kakak dan adik hanyalah mimpi :(

Saya melihat HP : "rupanya jam 4.20"

Saya tidak tahu jadwal solat subuh.

Karena merasa panas,
Saya lantas ke kamar mandi.
Wudhu.

Saya pun menyalakan komputer : Melihat jadwal solat di situs Islam.

Australia Prayer Times
Melbourne
Fajr: 4.20




Ya Allah!

Me(mati)kan yang (hidup).
Meng(hidup)kan yang (mati).



***




http://www.youtube.com/watch?v=7O-ZWeZSjdY